Oleh: Muhammad Kholid
Hidayatullah.com | SEPERTI biasa, di penghujung pekan bulan November, dunia nyata dan dunia maya disemarakkan dengan ucapan selamat hari guru. Kemeriahan ini sebagai wujud terima kasih atas jasa-jasa para guru yang tidak pernah lelah mendidik generasi penerus bangsa.
Pada peringatan hari guru, saya ingin mencoba untuk mengekspresikan hari guru ini dengan meresensi salah satu tulisan guru saya, yakni Pak Andika Saputra. Beliau adalah Dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta, spesialisasinya adalah kajian mengenai arsitektur, filsafat, budaya dan lainnya.
Saya mulai mengenal beliau sejak mengikuti kelas-kelas yang diadakan oleh SEED Institut, sebuah lembaga dimana Pak Andika menjadi pembimbingnya disana. Tiga tulisan Pak Andika yang akan saya resensi berjudul 1) Membidik Harari, Memposisikan Harari ; 2) Menguliti Pemikiran Harari ; 3) Digerus Zaman. Tulisan lengkap banyak web pribadinya.
Berikut ulasan ringkas saya mengenai tiga artikel tersebut kemudian dilanjutkan dengan pandangan sekilas atas tiga tulisan tersebut.
Ringkasan Tiga Karya
Peradaban manusia tahun demi tahun semakin mengalami krisis. Para pemikir berusaha untuk mencari problem utama dan berupaya memberikan tawaran yang bisa dipertimbangkan umat manusia. Di saat kemunculan Revolusi Industri 2.0 yang menandakan proses produksi yang lebih mudah, muncul sosok Erich Fromm yang mengkritik lajur perubahan ini. Fromm menilai bahwa industrilisasi ini menyebabkan dehumanisasi. Ia kemudian menawarkan industrialisasi yang lebih manusiawi dalam bentuk spiritualitas manusia dalam setiap aktifitas industri.
Ketika kemunculan Revolusi Industri 3.0 yang ditandai dengan ditemukannya teknologi komputer, Fromm masih dalam posisi yang sama, yakni memberikan kritikan terhadap teknologisasi ini dan memberikan arahan untuk mengimbanginya dengan aspek spiritual.
Ketika terjadi krisis kebudayaan di Prancis pada tahun 1968 dimana ditandai dengan kemunculan dua arah berbeda dalam peradaban Barat, yakni Modernisme Lanjut (High-Modernism) dan Posmodernism (Postmodernism), muncul sosok bernama Alvin Toffler. Alih-alih ini menawarkan linieritas peradaban sebagaimana Fromm, Toffler lebih cenderung menawarkan semangat keberagaman dalam bentuk relativisme.
Salah satu bentuk manifestasi keberagaman ini adalah bahwa jika dahulu bentuk keluarga adalah pasangan laki-laki dan perempuan, kedepannya konsep keluarga menjadi lebih variatif. Bisa dalam bentuk pasangan yang terdiri dari laki-laki dan laki-laki (gay) atau antar perempuan (lesbian).
Selain Toffler, ada sosok lain yang perlu dipertimbangkan, yakni Arnold Toynbee. Dalam karyanta Surviving the Future, Toynbee menawarkan masyaratkan internasional tunggal sebagai solusi krisis yang dialami manusia.
Ia dengan yakin menyatakan bahwa negara bangsa sedang menuju ajal kematiannya dan akan digantikan dengan pemerintahan global. Gagasan Toynbee bukanlah gagasan mengawang-awang. Kalau kita lihat saat ini, sekat-sekat geografis sudah mulai hilang dengan adanya media informasi.
Toynbee juga menjelaskan bahwa cara untuk menciptakan persatuan global adalah dengan mendirikan universitas dibawah naungan PBB. Universitas ini ditujukan untuk menanamkan nilai-nilai komunal dengan identitas dan bahasa yang digunakan bersama.
Setelah era Fromm, Toffler, dan Toynbee, muncul Yuval Noah Harari, seorang futurolog era peralihan revolusi industry 3.0 ke 4.0. Di tengah pro kontra mengenai Harari, menarik bahwa Harari adalah sosok sejarawan yang mampu menarasikan sejarah panjang umat manusia disertai prediksi masa depannya dengan bahasa yang popular.
Harari dengan karyanya yang berjudul Homo Sapeins dan Homo Deus, menawarkan fase dimana manusia sudah masuk era kecanggihan teknologi yang ia istilahkan dengan tekno-humanisme dan dataisme.
Tekno-humanisme adalah dimana manusia telah ditingkatkan kapasitasnya dengan menggunakan Kecerdasan Buatan. Sedangkan yang dimaksud dengan Dataisme adalah kondisi dimana kehidupan manusia diiringi oleh mesin cerdas sebagai entitas yang hidup.
Kemampuan Homo Sapiens untuk bertahan hidup dengan kemampuan bahasanya menjadikan manusia membentuk komunitas. Kelompok manusia ini akan menyingkirkan manusia lain yang berbeda dan tidak bisa bersaing dalam penguasaan ruang kehidupan dan sumber daya makan.
Ada empat point yang bisa dikritik dari pemikiran Harari. Pertama, pemahamannya bahwa peradaban dunia bergerak secara linier. Pemahaman ini adalah khas seorang evolusionis. Menurut Harari, dengan kemampuan Kecerdasan Buatan, manusia bisa melampaui kematian dengan menapaki fase sebagai Homo Deus.
Manusia mengarah ke jalur keabadian diri yang diimpikan oleh banyak manusia. Dalam konteks peradaban, Harari menjadikan kemajuan teknologi sebagai tolak ukur utama dalam menilai kemajuan suatu peradaban.
Harari juga menilai bahwa kumunculan agama adalah akibat dari evolusi linier dari awalnya yang berbentuk animisme dan dinamisme, kemudian berubah menjadi poloteisme dan monoteisme. Harari sebagai seorang berkembangsaan Yahudi dan penyuka sesama jenis ini, menyatakan bahwa kedepannya manusia tidak membutuhkan agama.
Apakah masyarakat dunia akan menjadi lebih bahagia jika meninggalakan agama atau malah sebaliknya? Yang menjadi pertanyaan juga adalah apakah benar dengan adanya teknologi, manusia bisa lebih baik? Melihat fakta lapangan menunjukkan bahwa moral manusia semakin menurun.
Kedua, Harari percaya bahwa kedepannya manusia bisa melampui kematian. Ia beranggapan bahwa kematian hanyalah persoalan kegagalan sistem biologis manusia, dan hal ini akan terhindari jika manusia melakukan kinerja yang lebih baik dalam rangka menjaga eksistensi tubuhnya.
Dalam aspek peradaban, Harari berpaham materialisme. Ia meyakini bahwa kualitas manusia itu dinilai dari aspek ekonomi, bukan nilai internal yang ada dalam diri manusia. Padangan materialisme Harari meniscayakan pemahaman tentang determinisme biologis.
Maksudnya adalah manusia dapat membangun peradabannya itu dipengaruhi oleh sistem biologisnya. Oleh karenya, Harari mengidentifikasi tiga masalah umat manusia yang terdiri dari masalah Pangan, Kesehatan dan Peperangan yang memperebutkan ruang kehidupan dan sumber daya pangan.
Ketiga, bayangan Harari diselimuti dengan bias kelas. Bentuk masyarakat yang ia maksud diatas hanya akan dimiliki oleh segelintir orang saja yang memiliki akses ekonomi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan teknologi.
Sedangkan masyarakat yang tidak mampu mengakses teknologi-teknologi tersebut akan mengalami kesulitan untuk hidup di tengah kemajuan teknologi. Tentu, evolusi Harari ini sarat akan nilai kapitalisme yang hanya ditujukan kepada segelintir orang saja.
Untuk menciptakan blueprint sendiri, umat Islam seyogyanya tidak latah mendifusi pemikiran orang Barat seperti Yuval Noah Harari ini atau tokoh lainnya seperti Erich Fromm, Alvin Toffler, dan Arnold Toynbee. Selayaknya umat Islam sudah harus menciptakan model masa depan peradaban Islam sendiri ditengah perubahan zaman yang sangat cepat. Apalagi kita sudah masuk ke era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan munculnya Kecerdasan Buatan (Artificial Intellegent).
Peradaban Islam pada hakikatnya tidaklah mati, melainkan sedang mengalami degradasi akibat penetrasi Peradaban Barat. Begitulah yang dipahami oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji’ al-Faruqi. Namun sayangnya, sebagian umat Islam hanya memposisikan diri sebagai pengikut kemajuan Barat selayaknya keset yang sekedar menjadi legitimasi atau kemajuan zaman. Kesadaran akan ketertinggalan perlu digalakkan dan didiskusikan solusinya agar ketika terjadi perubahan, umat Islam sudah siap dengan konsep dan aplikasinya sendiri. Tentu dengan basis falsafah berfikirnya sendiri. Aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis sendiri. Dan diiringi dengan upaya untuk berkontribusi dalam ranah praktis dengan ikut terlibat dalam menghasilkan ketersediaan teknologi. Dengan dua hal ini, kita bisa menkontsruk masa depan manusia yang lebih baik, dan khususnya kepada umat Islam yang masih sedang tidur, agar segera bangun kembali.
Analisa Tiga Karya Pak Andika
Gagasan pokok dari tulisan Pak Andika adalah kita sebagai seorang muslim harus bisa merumuskan sendiri blueprint mengenai bentuk masa depan yang ingin umat Islam gapai. Jika dalam peradaban Barat ada sosok yang bisa menjadi representasi kalangan futurolog Barat seperti Eric Fromm, Alvin Toffler, Arnold Toynbee, dan Yoval Noah Harari, yang mencoba membaca dan mengevaluasi peradaban manusia sekarang serta menawarkan gambaran masa depan yang mereka inginkan, maka umat Islam juga harus bisa menawatkan blueprint sendiri tanpa harus mengikuti gagasan luar yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai Islam.
Sebagai seorang muslim tentu bisa belajar dari bagaimana seorang futurolog Barat membaca peradaban manusia. Namun, bukan berarti kita harus menerima gagasan mereka sepenuhnya tanpa analisa kritis. Pak Andika dengan dua makalah berjudul Membidik Harari, Memposisikan Harari dan Menguliti Pemikiran Harari mengawali tulisannya dengan memposisikan seorang Yuval Noah Harari tidak sebagai sejarawan semata, melainkan sebagai futurolog.
Sebelum masuk ke gagasan Yuval, Pak Andika memulai dengan respon futurolog lain seperti Eric Fromm yang mengkritik dan memberi arahan atas kemunculan Revolusi Industi 2.0 dan 3.0. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pemikiran Alvin Toffler yang merespon modernism dengan relativisme sebagai ruh dari postmodernism.
Sosok ketiga yang diangkat adalah Arnold Toynbee yang memiliki sikap yang sama seperti Eric Fromm. Yakni menawarkan modernism lanjut sebagai kritik atas modernisme.
Setelah memaparkan para futurolog Barat seperti Fromm, Toffler dan Toynbee, Pak Andika mulai masuk kegagasan inti dari Yuval Noah Harari. Beliau memaparkan gagasan Harari disertai dengan pembacaan kritis.
Pertama, Harari melihat bahwa jalan sejarah peradaban manusia bersifat evolusionis. Pada puncaknya, manusia kedepannya akan bisa melampaui kematian dengan adanya Kecerdasan Buatan yang dikonfigurasi ke dalam sistem biologi tubuh manusia.
Pak Andika mempertanyakan apakah teknologi yang dijadikan Harari sebagai landasan kemajuan peradaban benar-benar bisa menyelesaikan masalah kemanusiaan. Karena secara faktual, meskipun dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, kualitas manusia modern semakin memburuk dan kerusakan yang diakibat oleh penggunaan teknologi ini juga sangat besar.
Kedua, Harari menjadikan faham materialisme sebagai landasan sejarah manusia yang evolutif. Aspek artefak teknologi dijadikan sebagai landasan kemajuan peradaban. Beliau menawarkan kritik dengan membenturkan gagasan Harari dengan seorang pemikir Katolik, Pieree Teilhar de Chardin. De Charin mengatakan bahwa punca evolusi manusia berhenti pada fase Homo Sapiens. Fase setelahnya, manusia lebih fokus kepada peningkatan dimensi spiritualitas.
Ketiga, Harari menggambarkan manusia masa depan adalah manusia yang berfaham dataisme dimana dengan adanya mesin cerdas manusia bisa menjadi sosok yang Harari sebut dengan tekno-humanisme, yaitu manusia yang sudah meningkat kapasitas dirinya dengan adanya Kecerdasan Buatan. Pak Andika mengkritik gagasan ini karena sarat dengan bias kelas. Manusia yang bisa mengakses data dan kecerdasan buatan hanyalah yang memiliki modal, sedangkan mereka yang hidup dibawah rata-rata akan tersingkir dari kemajuan peradaban atau tetap berada dalam kubangan keterpurukan.
Kebaruan yang ditawarkan Pak Andika adalah cara baru dalam melihat seorang Harari. Kebanyakan orang mengafirmasi seluruh gagasan Harari tanpa pembacaan yang kritis.
Di sisi lain, ada yang menolak mentah-mentah seluruh pemikiran Harari karena ia seorang Yahudi, penganut Ateisme dan pelaku homoseksual. Pak Andika dalam karyanya ini menawarkan pembacaan kritis terhadap gagasan besar Harari sembari manjadikannya sebagai pelecut bagi pembaca bahwa seorang muslim harus bisa merumuskan sendiri gambaran masa depan yang ingin diraih disertai dengan blueprint yang jelas sebagaimana dilakukan oleh Harari dkk.
Dengan pembacaan seperti ini, kita bisa bersikap adil terhadap para futurolog Barat, bahwa banyak data sejarah yang bisa kita ambil darinya disertai dengan kritik atas interpretasi mereka terhadap fakta sejarah tersebut. Pak Andika menawarkan solusi kepada pembaca mengenai gambaran masa depan yang harus dilakukan oleh umat Islam sebagai respon perkembangan peradaban Barat.
Barat dengan kemajuan terknologinya seperi dua sisi mata pisau, di satu sisi Barat menawarkan perkembangan teknologi, namun di sisi lain terjadi berbagai macam kerusakan akibat dari Revolusi Industri. Dua stategi yang ditawarkan oleh Pak Andika adalah :
Pertama, sebagaimana respon kelompok modernis dan posmodernis dalam merespon Revolusi Industri, umat Islam juga harus melakukan strategi yang sama dengan mempergunakan kemajuan teknologi sebagai cara untuk mencapai kemajuan peradaban Islam. Kedua, berkebalikan dengan yang pertama, umat Islam harus membangun sendiri peradabannya dengan mengambil inspirasi dari nilai-nilai ajaran agama Islam.
Menurut kacamata saya, stategi pertama tidak cukup memadai untuk dijadikan solusi, karena jika umat Islam hanya mengikuti langkah peradaban Barat dengan mengembangkan teknologi, maka akan menghasilkan kerusakan yang sama dan cara pandangan yang digunakanpun masih akan tetap terhegemoni oleh Barat. Jadi kedua stategi yang ditawarkan Pak Andika, harusnya tidak dilihat sebagai sesuatu pilihan yang mesti dipilih salah satunya, tapi bisa mengambil keduanya secara beriringan, dengan cara strategi kedua dijadikan sebagai landasan filosofis bagi strategi yang pertama
Dua strategi ini cukup relevan untuk dilakukan oleh setiap individu dari umat Islam sebagai solusi atas keterpurukan peradaban Islam saat ini. Tawaran strategis yang pertama bisa diambil bagi kalangan yang berkecimpung dalam dunia sains dan teknologi, sedangkan strategi yang kedua bisa ditempuh oleh kalangan filosof, ulama, cendikiawan muslim sebagai creative minority yang mengarahkan jalannya strategi yang pertama agar bisa berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang Islami.*
Penulis adalah peserta Sekolah Profetik SEED Institute dan Founder at-Tanwir