Oleh: Henri Shalahuddin
BERTEPATAN hari Kesaktian Pancasila, saya mendapat info dari sejumlah teman bahwa buku “Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya” telah di-review dalam sebuah website Majulah IJABI lengkap dengan linknya. Sekilas saya baca judulnya yg mentereng, Telaah Buku “Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya” (1) & (2).
Sebagai salah satu editor, tentu saya senang karena penelaahnya adalah seorang doktor dan duduk di jajaran Dewan Syura PP IJABI, Dr. Muhammad Babul Ulum. Pasti telaah beliau sangat kritis, argumentatif, dan dengan gaya bahasa ilmiah nan lembut.
Demikian yg terbersit dalam benak saya. Maklum di samping penelaahnya adalah seorang doktor, beliau juga dipercaya duduk dalam organisasi keagamaan yang mengatasnamakan sebagai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka ungkapan bahasanya pasti jauh dari sikap arogan.
Namun ternyata saya “kecele” dan pupuslah harapan saya untuk menikmati tulisan yang seharusnya dihasilkan oleh seorang doktor dan tokoh agama yang kononnya juga seorang alumni Gontor tahun 1992. Padahal saya juga alumni Gontor tahun 1995 dan melanjutkan kuliah di ISID hingga selesai tahun 1999.
Sebagai yunior beliau di Gontor, seharusnya saya mengenal beliau. Sebab jamaknya, santri yg lebih senior di Gontor pasti dikenal yuniornya, terlebih lagi kalau dia adalah santri yang berprestasi dan mempunyai skill baik di bidang olah raga, kesenian atau pramuka, tentu akan sangat dikenal luas oleh adik-adik kelasnya hingga 5 angkatan di bawahnya. Tapi kenyataannya saya malah tidak mengenal beliau sama sekali selama 11 tahun di Gontor (1989-2000), padahal saya cuma 3 tahun di bawah Dr. Babul Ulum.
Sebaliknya beliau yang malah mengenal saya dan menyebut-nyebut saya sebagai seorang wahabi, seolah-olah beliau pernah melihat saya punya kartu anggota Wahabi. Hehehe..
Saya tidak hendak menulis secara ilmiah untuk menanggapi tulisan beliau ini. Sebab ketika mengikuti alur tulisan Dr. Babul Ulum yang dibuka dengan menyibukkan diri melebeli para penulis buku, membuat saya bertanya-tanya mungkinkah seperti ini contoh tulisan yang ilmiah-akademis dalam versi beliau? Lalu apa bedanya antara parade pelaknatan dan tulisan ilmiah? Ataukah melaknat itu dianggap ilmiah karena dalam literatur Syiah disebutkan bahwa tempat dan waktu yang paling mulia melaknat Sahabat Nabi dan Ummul Mukminin adalah ketika berada di toilet, khususnya setelah selesai buang air. (La’aliul Akhbar, Qum Iran, iv:92).
Jika demikian halnya, maka saya memahami kenapa dengan berbekal sedikit membaca pengantar Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, beliau sudah hendak menggugurkan seluruh kandungan buku “Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya” yang memiliki 448 halaman. Bahkan di alinea terakhirnya, Dr. Babul Ulum secara kurang berwibawa menyatakan sebagai berikut:
“Uraian di atas baru menjawab 6 baris dari pengantar yang Hamid buat. Baru pembukaan saja hipotesis Hamid sudah gugur, bagaimana dengan isi bukunya? Akan semakin banyak kesalahan fatal yang ia lakukan. Hal ini membuktikan bahwa Hamid tidak paham metodologi penulisan karya ilmiah. Karena itu saya sarankan kepadanya untuk belajar lebih giat lagi, ya?”
Dengan ungkapan di atas, terkesan sekali ambisi beliau memperolok-olok Dr. Hamid Fahmy. Ataukah dengan itu beliau bermaksud ingin “nunut” terkenal di balik kealiman putra pendiri Pondok Modern Gontor ini, tempat beliau pernah menimba ilmu? Wallahu a’lam. Dan apakah benar beliau hanya mengulas 6 baris kata pengantar Dr. Hamid yang terdapat dalam hal. ix? Padahal dalam telaahan tersebut, beliau juga menulis komentar untuk hal. xv. 1 yang memungkiri wajah ilmiah buku INSISTS dan kredibilitas para penulis yang merupakan sarjana-sarjana yang memiliki kapasitas untuk mengkaji teologi dan ajaran Syiah secara obyektif dan tetap berpegang pada al-Qur`an dan Sunnah.
Nah jika saja dalam perkara yang sangat terlihat jelas seperti ini saja tokoh Dewan Syura IJABI ini sudah tidak mengindahkan nilai kejujuran, bagaimana mungkin pembaca bisa mempercayai akurasi argumen beliau di sepanjang tulisan?
Tetapi meskipun demikian, saya masih berbaik sangka bahwa kemungkinan Dr. Babul sebenarnya berniat menelaah buku INSISTS secara ilmiah dengan menyodorkan 3 ciri utama gaya tulisan yang beliau anggap tidak akademis. Sayangnya beliau tidak mampu menunjukkan bukti-bukti dari salah satu tiga kriteria yang disodorkannya.
Bahkan terlalu sibuk melarang “Ahlus Sunnah” berbeda pemikiran dengan Syiah dan menyandingkan KH. Idrus Ramli dengan Ariel Paterpan.
Mana bukti tentang kutipan Syiah yang sepotong-potong dan terlepas dari konteksnya dalam buku INSISTS itu? Dimana letak pemaknaan yang tidak akurat dan ngarang? Mana bukti tentang sumber-sumber lamunan itu? Bahkan keberatan beliau terhadap judul buku “menurut referensi induknya” pun belum sempat beliau buktikan hingga akhir telaahnya yang dimuat dalam dua bagian tulisan itu.* (bersambung)
Penulis adalah editor buku “Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya”