Hidayatullah.com–Untuk mengatasi krisis keuangan global yang sedang melanda dunia, tidak cukup hanya dengan menyadarkan dan memahamkan masyarakat akan buruknya dampak sistem kapitalis, tetapi masyarakat juga harus berani meninggalkan sistem tersebut dan beralih pada sistem ekonomi syariah.
Hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia, Edi Setiadi, kepada hidayatullah.com, usai acara seminar nasional Ekonomi Syariah di Balai Sidang Universitas Terbuka, Jakarta, Kamis (04/10/2012).
“Tentunya secara gradual kita memberikan pemahaman bahwa krisis itu hanya bisa diatasi apabila mereka meninggalkan sistem yang saat ini masih menghegemoni. Sistem itu diyakini adalah yang syariah dimana senantiasa mengkaitkan pengembangan antara sektor keuangan dengan sektor riil, tidak ada satu peser pun uang tanpa dilandasi oleh peningkatannya produksi atau bertambahnya barang dan sebagainya, itu upaya-upaya kita untuk memberikan hal-hal tersebut kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Ia juga melihat saat ini sudah banyak tenaga-tenaga (pelaku ekonomi) di World Bank dan IMF sudah menunjukkan ketertarikannya pada keuangan syariah.
“Saya rasa saat ini banyak juga tenaga-tenaga di World Bank dan IMF sudah mulai tertarik atau menunjukkan ketertarikannya kepada keuangan syariah, banyak juga tulisan-tulisan yang sudah diungkapkan seperti apa yang merupakan kegiatan-kegiatan dari ekonomi syariah harapannya tentu memang tidak sekedar hanya label syariah tapi juga diterapkan dan saya lihat itu merupakan suatu keniscayaan dikembangkan di beberapa negara China, Korea, Thailand, Singapura sudah mendirikan bank Islam yang sudah cukup karena ada unsur-unsur kebaikan yang dia lihat,” ungkapnya.
Sadar Syariah
Hanya saja, untuk menyadarkan maupun menerapkan sebuah sistem baru bagi masyarakat memang tidak mudah, hal ini dirasakan oleh perbankan syariah Indonesia, salah satunya adalah Bank Syariah Mandiri.
Menurut Putu Rahwidhiyasa, Senior Vice President Transformation Program Management Office Bank Syariah Mandiri, mengakui masih terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar paham akan ekonomi syariah dan masih kurangnya arsitektur keuangan syariah.
Selain itu, menurut Edi Setiadi, untuk mewujudkan sistem keuangan Islam, masyarakat memang harus disadarkan dan dipahamkan untuk mencintai perbankan syariah.
“Cara merealisasikan sistem keuangan Islam ya itu tadi, yang lebih bagus adalah bagaimana menyadarkan dulu, menyadarkan masyarakat di negara tersebut bahwa ini merupakan suatu hal yang baik untuk di wujudkan, suatu hal yang bisa memecahkan masalah bangsa karena kalau masyarakatnya sendiri tidak merasa paham akan hal-hal tersebut tentunya apapun yang diminta dari atas biasanya terkesan akan ada pemaksaan tidak untuk berkesinambungan, untuk kesinambungannya itulah dipahamkan masyarakatnya dulu untuk berbank syariah”, ujarnya kepada hidayatullah.com.
Hanya saja, Edi meminta masyarakat untuk memaklumi jika pelayanan bank syariah masih belum mampu menyamai dan sebaik bank konvensional.
“Kalau tadi dikatakan sekarang bank syariah ber-praising atau harganya mahal kemudian juga pelayanannya masih tidak sebaik bank konvensional ya itulah merupakan ciri khas dari institusi yang baru berdiri. Misalkan, seperti keluarga yang baru menikah tentu berbeda dengan keluarga yang sudah cukup lama menikah, sudah punya bagaimana cara mengatur, nah ini juga sama dengan institusi keuangan syariah, keuangannya masih sedikit, jumlah dananya juga dia masih harus nyari lagi,” terangnya.
Meski masih banyak keterbatasan, Edi yakin perbankan Islam akan berkembang dengan baik.*