Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Malas Punya Anak dan Tingkat Kelahiran Kecil, Korea Menuju ‘Negara Tua’

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Juni 2023 10:11 10:11 am
Ahmad
Dipublikasikan 21 Juni 2023 10:20
Bagikan
Lansia Korea Selatan mengantre untuk mendapat 500 won, dari Gereja Shin Banpo di Seoul selatan setiap minggu, saat kebaktian (NPR)
Bagikan

Hidayatullah.com—Komite Kepresidenan Korea Selatan yang didedikasikan untuk menangani masyarakat yang menua meluncurkan tim perencanaan kebijakan pada hari Senin, dengan tujuan untuk memperkuat hubungan antar-kementerian mengenai kebijakan kependudukan setelah tingkat kelahiran yang sangat rendah, lapor kantor berita Yonhap.

Langkah tersebut dilakukan karena tingkat kesuburan Korea Selatan, dengan jumlah rata-rata anak yang lahir seumur hidup seorang wanita mencapai rekor terendah 0,78 pada tahun 2022, jauh di bawah tingkat penggantian 2,1 yang akan membuat populasi Korea Selatan stabil di angka 51 juta.

Pada tahun 2022, persentase penduduk lanjut usia sebesar 17,5% dari total penduduk. Saat ini, 2023 jumlah penduduk berusia 65 tahun  mendekati 10 juta dan diproyeksikan meningkat menjadi 20,6% pada tahun 2025.

Komite menyatakan bahwa negara ini berada di ambang memasuki masyarakat “super-lansia” pada tahun 2025, dengan manula berusia 65 tahun ke atas mencapai 20 persen dari total populasi.

Tim baru akan dipimpin bersama oleh kementerian keuangan dan kesehatan akan meninjau dan mempromosikan kebijakan yang tidak hanya mengatasi tingkat kelahiran yang rendah dan tantangan yang ditimbulkan oleh populasi yang menua, tetapi juga secara efektif mengelola perubahan dalam struktur populasi.

Baca Juga

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

“Kami berencana menganalisis secara komprehensif dan mengatasi dampak sosial ekonomi dan risiko perubahan struktur populasi,” menurut Wakil Menteri Keuangan I, Bang Ki Sun.

Dia mengatakan pemerintah akan mengumumkan rincian kebijakan yang direncanakan dalam waktu dekat.

Menurut data pemerintah terakhir, hanya 21.138 bayi lahir pada Maret tahun ini, turun 8,1 persen dari tahun sebelumnya yang merupakan angka terendah untuk Maret sejak badan statistik mulai mengumpulkan data bulanan pada 1981.

Jumlah bayi yang lahir di Korea Selatan menurun setiap tahunnya selama 88 bulan berturut-turut. Menurut data terbaru minggu lalu, warga Korea Selatan berusia 65 tahun ke atas diperkirakan mencapai 46,4 persen dari total populasi pada tahun 2070.

Tingkat kelahiran yang rendah di Korea Selatan adalah masalah kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor. Menurunnya tingkat pernikahan menjadi salah satu akibat dari budaya workism ekstrim, ditambah dengan isu gender yang sedang berlangsung di negara itu.

Selain itu, biaya hidup yang tinggi,  ketidaksetaraan ekonomi, biaya hidup yang tinggi, upah yang rendah dan meningkatnya harga perumahan yang tidak terjangkau juga menyebabkan banyak wanita enggan memiliki anak.

Tingginya biaya perumahan dan pendidikan membuat keamanan finansial menjadi kebutuhan.  Sebuah apartemen rata-rata di Seoul, misalnya, menghabiskan sekitar 19 tahun pendapatan rumah tangga tahunan rata-rata Korea Selatan, naik dari 11 tahun pada 2017.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah penurunan tajam keinginan warga Korea Selatan untuk memiliki anak sama sekali. Sebuah studi pada tahun 2020 menemukan bahwa 52 persen warga Korea Selatan berusia 20-an tidak berencana memiliki anak saat menikah, tulis Voice of Amerika.

Itu adalah lompatan besar dari 29 persen pada tahun 2015. Dalam sebuah survei yang dilakukan untuk surat kabar Joongang Ilbo, 27,4 persen responden mengatakan bahwa beban biaya pengasuhan anak adalah alasan utama rendahnya angka kelahiran. 

Di tengah penuaan yang cepat, proporsi orang tua di Korea Selatan diperkirakan akan meningkat 30,1 persen pada tahun 2035 dan melebihi 40 persen pada tahun 2050.

Badan statistik tahun 2022 sudah memperingatkan Korea Selatan diperkirakan menjadi negara paling tua di dunia pada tahun 2044. Pada tahun 2070, sekitar 46 persen. Menanggapi krisis kesuburan, pemerintah Korea Selatan telah menerapkan kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan angka kelahiran negara tersebut, termasuk menawarkan insentif keuangan kepada orang tua baru6 . Namun, efektivitas kebijakan ini masih harus dilihat.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekelahiran korea selatanKorea Selatanlansiamanula
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wali Kota Muslim di Inggris Mengundurkan Diri Usai Kibarkan Bendera LGBT
Tulisan selanjutnya Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin: Pemerintah akan Mengambil Langkah Terkait Ponpes Al-Zaytun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

3 Juni 2026 12:30
Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

3 Juni 2026 12:08
Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

3 Juni 2026 09:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?