Hidayatullah.com – Perkembangan ekonomi syariah global terus menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Nilai kapitalisasi pasar ekonomi Islam dunia pada 2026 tercatat mencapai sekitar USD 8,6 triliun dan diproyeksikan meningkat hingga kisaran USD 12–13 triliun pada 2029.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang wakaf sekaligus Ketua Tim Kerja Green Waqf, Guntur Subagja Mahardika, menanggapi laporan State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2025/2026 yang diterbitkan oleh DinarStandard bersama Indonesia Halal Lifestyle Center.
Menurut Guntur, besarnya nilai ekonomi Islam global menunjukkan bahwa sistem ekonomi berbasis nilai-nilai syariah semakin diterima masyarakat dunia, tidak hanya oleh umat Islam tetapi juga oleh kalangan yang mencari model ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan memiliki daya tahan terhadap gejolak ekonomi global.
“Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, ekonomi syariah semakin dipandang sebagai sistem yang memiliki stabilitas, keadilan, dan ketahanan yang baik dalam menghadapi krisis,” ujarnya.
Ekonomi Islam Diproyeksikan Tembus USD 13 Triliun
Berdasarkan laporan SGIER 2025/2026, nilai ekonomi Islam global saat ini ditopang oleh tujuh sektor utama industri halal. Sektor terbesar masih berasal dari keuangan syariah dengan total aset mencapai sekitar USD 5,99 triliun. Disusul sektor makanan halal senilai USD 1,53 triliun, busana muslim USD 347 miliar, media dan rekreasi USD 276 miliar, pariwisata ramah muslim USD 249 miliar, farmasi halal USD 112 miliar, serta kosmetik halal USD 92 miliar.
Dalam tiga tahun mendatang, seluruh sektor tersebut diproyeksikan terus bertumbuh. Pada 2029, aset keuangan syariah diperkirakan mencapai USD 9,72 triliun, sementara sektor makanan halal diproyeksikan menembus USD 2,06 triliun.
“Ini menunjukkan bahwa pasar ekonomi Islam bukan lagi pasar alternatif, tetapi telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi global yang sangat besar,” kata Guntur.
Indonesia Turun ke Peringkat Empat
Di tengah pertumbuhan ekonomi syariah dunia, posisi Indonesia justru mengalami penurunan dalam pemeringkatan SGIER 2025/2026.
Indonesia kini berada di peringkat keempat dengan skor 96, setelah sebelumnya menempati posisi ketiga selama dua tahun berturut-turut.
Peringkat pertama masih ditempati Malaysia dengan skor 186,1, diikuti Uni Emirat Arab dengan skor 137,5 dan Arab Saudi dengan skor 107,9. Indonesia berada di atas Bahrain yang memperoleh skor 76.Guntur menilai penurunan peringkat tersebut menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian serius.
“Indonesia masih masuk lima besar dunia, tetapi pertumbuhannya belum cukup signifikan dibandingkan potensinya. Kita masih lebih dominan sebagai konsumen produk ekonomi syariah dibandingkan produsen utama,” ujarnya.
Padahal, Indonesia memiliki modal yang sangat besar sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mencapai sekitar 245 juta jiwa.
Guntur menilai capaian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari berbagai kebijakan strategis yang dijalankan pada masa pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.
Menurutnya, visi menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dan industri halal dunia mulai diwujudkan melalui sejumlah langkah besar, seperti pembentukan Bank Syariah Indonesia melalui merger bank-bank syariah BUMN, penguatan Bank Muamalat Indonesia, pengembangan sukuk negara, penerbitan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), pembangunan kawasan industri halal, hingga pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal.
“Hasilnya terlihat nyata. Indonesia yang sebelumnya selalu berada di posisi empat berhasil naik ke peringkat tiga dunia dalam ekonomi syariah,” katanya.
Guntur berharap penguatan ekonomi syariah kembali menjadi salah satu agenda prioritas pemerintahan saat ini.
Ia menilai sejumlah kebijakan yang telah dilakukan pemerintah memberikan sinyal positif, termasuk penguatan kelembagaan BPJPH yang kini berada langsung di bawah Presiden, pembentukan kelembagaan khusus urusan haji, hingga rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi.
“Masyarakat memiliki harapan besar agar ekonomi syariah dan industri halal menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional pada masa pemerintahan Presiden Prabowo,” ujarnya.
Selaras dengan Asta Cita
Menurut Guntur, ekonomi syariah memiliki keterkaitan langsung dengan agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo.
Program-program seperti Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis (MBG), swasembada pangan, penguatan UMKM, ekonomi kerakyatan, dan pengelolaan sumber daya alam dapat diintegrasikan dengan pendekatan ekonomi syariah.
Ia mencontohkan program MBG yang memiliki nilai perputaran ekonomi sekitar Rp350 triliun per tahun. Jika seluruh rantai pasok dan produknya menerapkan standar halal serta tersertifikasi halal, maka dampaknya akan sangat signifikan terhadap pertumbuhan industri halal nasional.
“Ekonomi syariah dapat menjadi salah satu pilar utama transformasi ekonomi nasional. Potensi pasar yang sangat besar ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, memperluas pemerataan ekonomi, dan mewujudkan keadilan sosial sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945,” kata Guntur.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki seluruh modal yang dibutuhkan untuk menjadi pemain utama ekonomi syariah dunia. Tantangan ke depan adalah memastikan seluruh pemangku kepentingan mampu menangkap peluang tersebut melalui kebijakan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Indonesia jangan hanya menjadi pasar terbesar ekonomi syariah dunia. Saatnya kita naik kelas menjadi produsen dan pusat ekonomi syariah global,” pungkasnya.*




