Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Prancis akan Tarik Duta Besar dan Pasukan dari Niger

Ama Farah
Terakhir diupdate: 25 September 2023 15:11 3:11 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 25 September 2023 14:32
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Prancis akan menarik pulang duta besarnya dari Niger disusul kemudian pasukan militernya dalam beberapa bulan mendatang kata Presiden Emmanuel Macron, menyusul ketegangan antara kedua negara akibat kudeta yang dilakukan oleh militer Niger terhadap Presiden Mohamed Bazoum yang dikenal pro-Paris.

Pengumuman oleh Macron tersebut tampaknya mengakhiri sikap bertahan Paris yang bersikukuh menempatkan duta besarnya meskipun para pemimpin kudeta di Niamey menyuruh utusan diplomatik dan pasukan Prancis segera angkat kaki dari Niger.

“Prancis telah memutuskan untuk menarik duta besarnya,” kata Macron kepada televisi Prancis dalam sebuah wawancara, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut bagaimana hal keputusan itu akan dilakukan. “Dalam beberapa jam ke depan duta besar kami dan beberapa diplomat akan kembali ke Prancis,” imbuhnya seperti dikutip AFP Ahad (24/9/2023).

Penguasa militer sudah melarang pesawat Prancis (milik maupun sewaan) terbang di wilayah udara Niger, menurut situs web Agency for the Safety of Air Navigation in Africa and Madagascar. Tidak jelas apakah larangan hal ini akan mempengaruhi pemulangan duta besar dan para diplomat Prancis.

Macron menambahkan bahwa kerja sama militer telah berakhir dan pasukan Prancis akan menarik diri dalam “bulan-bulan dan pekan-pekan mendatang” dan penarikan penuh akan dilakukan akhir tahun ini.

Baca Juga

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

“Kami akan berkonsultasi dengan para pelaku kudeta, karena kami ingin penarikan ini berlangsung secara damai,” kata Macron.

Menanggapi pengumuman Presiden Prancis itu, penguasa militer Niger menyambutnya dengan sukacita.

“Hari Ahad ini, kami merayakan langkah baru menuju kedaulatan Niger,” demikian pernyataan penguasa militer yang merebut kekuasaan dengan mendongkel Presiden Mohamed Bazoum pada 26 Juli lewat layar televisi.

Prancis menempatkan sekitar 1.500 personel militer di Niger sebagai bagian dari operasi anti-jihadis untuk menumpas kelompok-kelompok Muslim bersenjata di kawasan Sahel. Macron mengatakan penguasa di Niger pasca kudeta “tidak lagi berkeinginan berperang melawan terorisme”.

Awal bulan ini, Macron mengatakan duta besar dan stafnya “benar-benar disandera” di dalam gedung kedutaan, mengkonsumsi ransum militer sementara tidak ada pengiriman makanan bagi mereka.

Dalam wawancara yang disiarkan di televisi itu, Macron menegaskan sikap Prancis yang tetap menganggap Presiden Bazoum – yang saat ini “disandera” militer – sebagai penguasa yang sah di Niger.

“Dia menjadi sasaran kudeta karena dia melakukan reformasi yang berani dan karena banyak terjadi perselisihan antar etnis dan kepengecutan politik,” kata Macron.

Kudeta terhadap Bazoum merupakan penggulingan presiden ketiga yang terjadi di negara-negara bekas jajahan Prancis, menyusul kudeta di Mali pada 2021 dan di Burkina Faso pada 2022. Kudeta di fua negara tetangga Niger itu juga memaksa Prancis menarik pasukannya.

Namun, kudeta di Niger menjadi tamparan keras bagi Macron karena terjadi setelah dia berusaha menjadikan pemerintah di Niamey sebagai sekutu khususnya dan ingin menjadikan Niger sebagai pusat kehadiran pasukan Prancis di kawasan sekitar menggantikan Mali. Sekutu Prancis, Amerika Serikat, juga menempatkan lebih dari 1.000 personel militer di sana.

Macron dikabarkan kerap melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Bazoum, yang ditempatkan dalam tahanan rumah di kediaman resmi presiden oleh militer.

Macron mengatakan bahwa serangan oleh kelompok Muslim bersenjata menyebabkan puluhan kematian setiap hari di Mali setelah kudeta, dan sekarang serangan serupa juga terjadi lagi di Niger.

“Saya sangat khawatir dengan kawasan ini,” katanya.

“Prancis, terkadang secara sendirian, telah mengambil semua tanggung jawabnya dan saya bangga dengan militer kami. Namun, kami tidak bertanggung jawab atas kehidupan politik negara-negara tersebut dan kami akan menanggung semua konsekuensinya.”

Macron menegaskan bahwa Prancis tidak mau “ditawan” oleh para pelaku kudeta.*

Yuk bantu dakwah media melalui BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH)

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Duta BesarNigerPrancisPresiden Mohamed Bazoum
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Minat Investasi Halal Meningkat, Singapura Luncurkan  Platform RizqX
Tulisan selanjutnya Wakil MUI Ingatkan Pemerintah Nasib UMKM akibat TikTok: “Sudah Banyak yang Pulang Kampung”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

3 Juni 2026 09:20
Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

3 Juni 2026 06:00
Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

2 Juni 2026 21:41
Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

2 Juni 2026 19:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?