Hidayatullah.com – Penjajah “Israel” sedang mempertimbangkan keputusan untuk tidak memperpanjang perjanjian air dengan Yordania karena kritik Amman terhadap serangan militer mematikan Zionis di Jalur Gaza, menurut media Ibrani pada hari Kamis.
“Kementerian Energi sedang mempertimbangkan keputusan untuk tidak memperpanjang perjanjian air dengan Yordania karena pernyataan-pernyataan anti-Israel dari para pejabat senior Yordania,” kata lembaga penyiaran publik “Israel”, KAN (25/01/2024).
Yordania dan Israel memiliki perjanjian yang membuat negara Arab tersebut membeli 50 juta meter kubik air dari Tel Aviv di bawah perjanjian perdamaian mereka pada tahun 1994.
Pada tahun 2021, kedua negara menandatangani perjanjian yang memungkinkan Amman untuk membeli 50 juta meter kubik air tambahan dari “Israel” dengan imbalan produksi listrik dari Amman ke Tel Aviv.
Baca juga: Survei: 80 Persen Orang ‘Israel’ di Luar Negeri Ogah Pulang
Yordania saat ini berada di urutan kedua dalam daftar negara termiskin di dunia, menurut indeks air global.
“Keputusan akhir belum diambil,” kata KAN. “Masalah ini tergantung pada perkembangan hubungan dengan Yordania dan bagaimana Yordania akan mengekspresikan posisi mereka dalam perang dalam waktu dekat.”
Tidak ada komentar dari Yordania atau “Israel” atas laporan tersebut.
Entitas Zionis “Israel” telah melancarkan serangan mematikan ke Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober lalu, menewaskan sedikitnya 25.700 warga Palestina dan melukai 63.740 lainnya. Hampir 1.200 warga “Israel” diyakini telah terbunuh dalam serangan Hamas.
Serangan tersebut telah menyebabkan 85% populasi Gaza mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara lebih dari separuh infrastruktur daerah kantong tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.*
Baca juga: Krisis Tenaga Kerja, ‘Israel’ Rekrut Puluhan Ribu Pekerja asal India