Hidayatullah.com – Pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari posisi mereka meskipun “secara langsung dan sengaja diserang” oleh militer ‘Israel’.
Juru bicara UNIFIL menyatakan bahwa mereka akn terus memenuhi mandat, meskipun menghadapi tantangan besar yang muncul dari ‘Israel’.
“Pasukan penjaga perdamaian tetap berada di semua posisi dan bendera PBB terus berkibar,” kata juru bicara UNIFIL Andrea Tenenti kepada Anadolu.
Selama sepekan terakhir, ‘Israel’ berulang kali membidik posisi UNIFIL di Lebanon selatan, memicu kecaman dunia dan kekhawatiran tentang rencana militernya yang lebih besar.
Serangan terhadap UNIFIL terjadi bersamaan dengan serangan udara ‘Israel’ di seluruh Lebanon.
Serangan ‘Israel’ yang semakin intensif di Lebanon telah membunuh lebih dari 1.500 orang, melukai lebih dari 4.500 orang lainnya, dan membuat sedikitnya 1,34 juta orang mengungsi sejak akhir September.
Melansir Anadolu pada Senin (21/10/2024), pPerhitungan resmi Lebanon menyebut korban jiwa dalam serangan ‘Israel’ sejak Oktober lalu kini mencapai lebih dari 13.000 orang,
“Sejak 8 Oktober, posisi UNIFIL di Ras Naqoura, Labbouneh, dan Ramia telah diserang secara langsung dan sengaja oleh IDF (Pasukan Pertahanan Israel),” kata Tenenti.
“Tembakan tank Merkava IDF juga menghantam menara pengawas di markas kami di Naqoura. Lima penjaga perdamaian terluka di markas kami, termasuk dua orang yang terkena serangan langsung di menara observasi kami,” imbuhnya.
Penjajah ‘Israel’ dilaporkan menggunakan bom fosfor putih yang dilarang di Lebanon. Para ahli dan pengawasa PBB seperti Amnesty International dan Human Rights Watch juga telah menyampaikan keprihatinan mereka atas tindakan terlarang ‘Israel’ itu.*