Hidayatullah.com– Peperangan di Sudan, yang dimulai 20 bulan lalu, mengakibatkan salah satu bencana kemanusiaan paling parah di dunia menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lebih dari 13 juta orang mengungsi akibat konflik itu, dan lebih dari separuh dari 45 juta penduduk Sudan mengalami kekurangan gizi akut dengan delapan juta orang di antaranya dalam kondisi kritis.
Menurut laporan reporter Radio France Internationale (RFI) di Sudan hari Rabu (27/11/2024), rumah sakit Al-Shuhada di daerah Bahri di bagian utara pinggiran ibu kota Khartoum, belum lama ini direbut oleh tentara reguler Sudan dari tangan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Tidak jauh dari rumah sakit itu, penduduk mengalami malnutrisi dan kelaparan, yang sekarang merenggut nyawa lebih banyak dibandingkan perang itu sendiri.
“Kedua putri saya meninggal karena kelaparan,” kata Selwa Zakaria kepada RFI. “Yang pertama empat bulan lalu – dia berusia 12 tahun. Yang kedua – berusia satu setengah tahun – meninggal seminggu yang lalu. Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan.” Ibu malang itu sedang menunggu staf medis di depan pintu unit pelayanan gizi di RS Al-Shuhada.
Fatima Haroun petugas yang merawat bayi-bayi kurang gizi sedang menimbang berat badan satu per satu bayi yang dijaganya.
“Pada bulan September saja, kami mencatat 20 kematian anak di bawah usia 5 tahun,” katanya kepada reporter RFI. ”Kami menghadapi situasi kelaparan level 1. Namun, tidak seorang pun menyadari betapa seriusnya kasus-kasus yang kami tangani di sini. Saya pernah menerima satu keluarga yang, ketika mereka tidak punya apa pun untuk dimakan, mereka mengambil lumpur Sungai Nil untuk dimakan!”
Sosok-sosok yang tampak kelaparan juga menunggu di lobi rumah sakit. Seorang anak laki-laki bernama Fayad, yang tubuhnya hanya tinggal tulang dan kulit, sedang dirawat oleh Dokter Imad.
“Ketika saya menerimanya di ruang gawat darurat, dia dalam keadaan mengalami dehidrasi, hipotensi,” kata dokter tersebut kepada RFI. “Dia kekurangan gula, air, semuanya.”
Dokter itu bertanya kepada Fayad apakah dia bisa bicara. Anak itu tidak dapat menjawab. Bibirnya nyaris tidak bergerak.
Warga Sudan yang berhasil melarikan diri dari daerah yang sedang dilanda pertempuran tiba dalam kondisi kritis.
Azza Hussein belum lama menyelamatkan diri dari daerah Samarab, sekitar satu kilometer dari rumah sakit Al-Shuhada.
“Tidak ada makanan. Pasar-pasar kosong, Orang sekarat di mana-mana,” katanya kepada RFI.“Di lingkungan kami, dalam dua minggu saja sudah ada 150 orang yang meninggal. Contohnya, tetangga saya meninggal karena disentri mendadak, ada juga yang meninggal karena air sumur [kotor]. Ada juga karena demam berdarah. Pemakaman dilakukan dengan secepat mungkin supaya jasad-jasad tidak menjadi sumber penularan penyakit,” paparnya.
Pada kondisi normal, penyakit-penyakit tersebut tidak membunuh jika diobati sebagaimana mestinya, namun kondisi kelaparan menjadikannya sebagai pengundang maut, menurut direktur rumah sakit tersebut Hadil El-Hassan.
Akibat malnutrisi dan kelaparan, sistem kekebalan tubuh masyarakat sangat lemah.
Di seluruh Sudan, perang telah menyebabkan kehancuran di mana-mana, terjadi penjarahan di pabrik-pabrik dan pasar-pasar. Masyarakat terkepung peperangan tanpa akses terhadap makanan.
“Kami tidak bisa mengirimkan makanan kepada mereka,” kata El-Hassan.
Dia menyerukan supaya koridor kemanusiaan dibuka, khususnya ke wilayah-wilayah yang dikuasai Rapid Support Forces.
Dalam kondisi kekacauan meluas seperti sekarang ini, sulit untuk mengetahui berapa banyak orang yang mati karena kelaparan.
“Mereka merupakan korban ikutan dari perang,” imbuhnya.
Di dalam wilayah Sudan sekitar 11 juta irang menjadi pengungsi di negaranya sendiri, sementara dua juta lainnya mengungsi ke negara-negara tetangga.
Sebagian besar warga Sudan merasa benar-benar terabaikan.*