Hidayatullah.com-Sebuah serangan udara rezim Suriah membunuh 29 tentara Turki di Provinsi Idlib, kata pejabat Turki dikutip TRT World, Jumat, (28/2). Sedang tentara lain yang terluka parah dalam serangan itu sedang dirawat di rumah sakit di Turki, kata Gubernur Hatay Rahmi Dogan.
Gubernur juga mengatakan 36 tentara yang terluka berada di rumah sakit di pronvisi Hatay selatan Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dilaporkan mengadakan pertemuan keamanan darurat di Ankara menyusul serangan rezim Suriah terhadap tentara Turki tersebut.
Sementara juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Omer Celik mengatakan Turki sekarang akan menganggap semua elemen rezim Assad sebagai target musuh.
Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu juga dilaporkan berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg melalui panggilan telepon pasca serangan.
Sementara itu, Angkatan Bersenjata Turki telah menghancurkan total 1.709 elemen rezim dalam operasinya di Idlib sejak 10 Februari 2020. Direktur Komunikasi Turki Fahrettin ALtun mengingatkan batas waktu bagi rezim Suriah untuk menarik mundur pasukan mereka ke belakang pos pengawasan Turki di Idlib:
“Waktu hampir habis! Rezim pembunuh telah menyerang warga sipil dan tentara kami di lapangan. Kami telah dan akan terus menanggapi. Jika serangan ini berlanjut, kami akan bergerak maju dengan rencana kami untuk menghentikan rezim dari membunuh dan mengusir lebih banyak orang,” Altun mengatakan di akun Twitternya.
Pada siaran pers pasca pertemuan keamanan darurat di Ankara, Altun mengatakan pasukan darat dan udara Turki melancarkan serangan yang untuk mengurangi kekuatan musuh terhadap semua target rezim Suriah yang diketahui.
“Hari ini, kita tidak bisa dan tidak akan menyaksikan apa yang terjadi di Rwanda, Bosnia dan Herzegovina di masa lalu terulang di Idlib,” kata Altun. Penasihat dan juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin menghubungi Penasihat Keamanan Nasional AS Robert C. O’Brien untuk membicarakan serangan rezim Suriah.
Di sisi lain, Senator AS Lindsey Graham, yang dekat dengan pemerintahan Trump, menyerukan pembentukan zona larangan terbang di atas Idlib Suriah dan menyerukan kepada Presiden Donald Trump untuk membantu menghentikan pembunuhan warga sipil.
Tentara Turki juga telah menghancurkan total 55 tank, tiga helikopter, 18 kendaraan lapis baja, 29 howitzer, 21 kendaraan militer, empat senjata anti-pesawat Docka, enam penyimpanan amunisi, dan tujuh mortir dalam operasinya, kata beberapa sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Tetapi lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona de-eskalasi sejak saat gencatan senjata terus dilanggar.
Zona de-eskalasi saat ini menjadi rumah bagi 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu warga sipil yang terusir oleh serangan rezim Suriah dari provinsi lain.
Diperkirakan satu juta warga sipil Suriah telah bergerak menuju wilayah di dekat perbatasan dengan Turki untuk mencari perlindungan. Dengan cuaca dingin yang membeku.
Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada 2011, Turki telah menampung sekitar 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya negara penampung pengungsi terbanyak di dunia.*