Hidayatullah.com – Sedikitnya 22 pemukim haram ‘Israel’ terluka, termasuk dua diantaranya luka parah, setelah drone yang diluncurkan dari Yaman meledak di kota Eilat, Israel selatan pada Rabu (24/09/2025).
Saksi mata mengatakan ledakan terdengar dan asap mengepul di atas kota, sementara helikopter mengangkut korban luka dari Eilat ke rumah sakit di ‘Israel’ tengah.
Menurut pihak kepolisian ‘Israel,’ pesawat tanpa awak tersebut jatuh di pusat kota Eilat, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan material. Mereka mengatakan sedang melakukan penyelidikan atas serangan itu.
Sementara militer ‘Israel’ menyatakan bahwa mereka telah mencoba mencegat pesawat tanpa awak tersebut sebelum menabrak, namun gagal. Ketinggian terbang drone yang rendah menyebabkan sistem pertahanan udara Iron Dome mengalami kesulitan mengintersepsi.
Israel Hayom mengonfirmasi bahwa dua rudal pencegat ditembakkan tetapi gagal menembak jatuh pesawat tanpa awak tersebut.
Kelompok Houthi atau biasa disebut Ansarallah telah melancarkan puluhan serangan rudal dan drone terhadap ‘Israel’ dan kapal-kapalnya di Laut Merah. Houthi menegaskan bahwa aksi itu sebagai dukungan terhadap rakyat Palestina.
Sementara itu, dengan dukungan Amerika, Israel melanjutkan genosidanya di Gaza—melalui pembunuhan massal, kelaparan, penghancuran, dan pemindahan paksa—meskipun ada seruan internasional yang berulang dan perintah mengikat dari Mahkamah Internasional untuk menghentikan kampanye militernya.
Genosida yang terus terjadi
Sejak mengingkari gencatan senjata pada 18 Maret, penjajah ‘Israel’ terus melanjutkan pemboman mematikan di Jalur Gaza, membunuh dan melukai ribuan warga Palestina.
Mulai 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika, entitas zionis ‘Israel’ melancarkan perang genosida terhadap rakyat Gaza. Kampanye ini sejauh ini telah mengakibatkan syahidnya lebih dari 65.000 warga Palestina, dengan lebih dari 165.000 orang terluka.
Sebagian besar penduduk telah mengungsi, dan kerusakan infrastruktur belum pernah terjadi sebelumnya sejak Perang Dunia II. Ribuan orang masih hilang.
Selain serangan militer, blokade ‘Israel’ telah menyebabkan kelaparan buatan manusia, yang mengakibatkan kematian ratusan warga Palestina—kebanyakan anak-anak—dan ratusan ribu lainnya terancam.
Meskipun banyak negara melayangkan kecaman terhadap tindakan ‘Israel’, hanya sedikit dari mereka yang mengambil tindakan nyata.*




