Hidayatullah.com— Kasus bunuh diri di kalangan tentara ‘Israel’ (IDF) meningkat tajam sejak pecahnya perang di Gaza pada akhir 2023. Data terbaru menunjukkan ratusan upaya bunuh diri dilakukan dalam kurun 18 bulan terakhir, sementara puluhan nyawa melayang di tengah tekanan psikologis pascaperang.
Menurut laporan Knesset Research and Information Center yang dikutip Ynet News(3/11/2025), sebanyak 279 prajurit ‘Israel’ mencoba bunuh diri antara Januari 2024 hingga Juli 2025. Angka tersebut dianggap mencerminkan beban mental yang semakin berat di kalangan militer setelah mobilisasi besar-besaran selama perang Gaza.
“Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan,” tulis Ynet. “Para pejabat militer menyebut sebagian besar upaya dilakukan oleh tentara muda yang baru kembali dari garis depan dan mengalami trauma berat.”
Sementara itu, data yang dikutip Times of ‘Israel’ menunjukkan tren peningkatan kematian akibat bunuh diri dalam dua tahun terakhir. Pada 2023, 17 tentara ‘Israel’ dilaporkan tewas karena bunuh diri.
Angka itu naik menjadi sekitar 20–21 kasus pada 2024, dan terus meningkat pada paruh pertama 2025. “Kami menemukan pola yang konsisten antara trauma tempur dan keputusan bunuh diri,” ujar seorang pejabat IDF yang dikutip Times of ‘Israel’ dalam laporan 7 Oktober 2025.
Dalam laporan terpisah, Anadolu Agency (AA) menuliskan bahwa total 124 tentara penjajah meninggal karena bunuh diri sejak 2017 hingga pertengahan 2025. “Sebagian besar kasus dikaitkan dengan tekanan psikologis pasca penugasan di Gaza,” tulis AA.
Kasus terbaru yang menarik perhatian publik adalah kematian Dmitry Shapiro (34), seorang operator tank yang ditemukan tewas pekan lalu di dekat Paratroopers Monument, kawasan Beit Elazari, ‘Israel’ tengah (wilayah Palestina yang dirampok penjajah).
Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh IDF, beberapa media lokal ‘Israel’ melaporkan bahwa kematiannya diduga akibat bunuh diri. Keluarganya mengatakan Shapiro kembali dari Gaza dalam keadaan “patah secara mental”.
“Dia pulang sebagai orang yang berbeda. Dia jarang bicara dan tidak bisa tidur. Kami tahu dia sangat terluka oleh apa yang dilihatnya di sana,” ujar salah satu anggota keluarga, dikutip media lokal Maariv.
Laporan Times of ‘Israel’ menyebut bahwa pasca perang Gaza, IDF menghadapi lonjakan permintaan konseling psikologis di unit-unit garis depan. “Ratusan tentara meminta penanganan trauma, tetapi kapasitas tenaga kesehatan mental terbatas,” tulis media itu.
Kementerian Pertahanan ‘Israel’ menegaskan pihaknya telah memperluas layanan dukungan psikologis bagi prajurit aktif dan cadangan. “Kami tidak akan membiarkan mereka berjuang sendirian,” kata juru bicara kementerian, dikutip Ynet.
Namun para pengamat menilai langkah itu masih belum cukup. Seorang analis di Haifa University mengatakan kepada Haaretz, “Militer ‘Israel’ perlu mengakui bahwa dampak perang bukan hanya soal luka fisik, tetapi juga kehancuran psikologis. Trauma perang Gaza akan terus menghantui generasi tentara berikutnya.”
Lonjakan bunuh diri ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat ‘Israel’, yang mulai mempertanyakan kesiapan sistem militer menghadapi dampak jangka panjang dari perang. Para aktivis kesehatan mental menuntut reformasi serius dalam sistem pendampingan psikologis IDF dan akses terbuka bagi para veteran yang mengalami gejala pasca-trauma.*




