Hidayatullah.com – Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi memasuki kota Mukalla, ibu kota provinsi Hadramaut, pada hari Ahad setelah mundurnya pasukan Pasukan Transisi Selatan (STC), menurut laporan media lokal.
Menurut stasiun televisi pemerintah Yaman pada Ahad (04/01/2026), Pasukan Perisai Nasional memasuki kota melalui timur, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Rekaman yang ditayangkan oleh saluran tersebut menunjukkan warga menyambut pasukan pemerintah yang sedang memasuki kota.
Sumber pemerintah Yaman yang menolak menampilkan identitasnya mengatakan kepada Anadolu bahwa pasukan STC mundur dari sejumlah fasilitas dan posisi di kota tersebut pada hari Sabtu.
Mukalla adalah kota terpenting di Hadramaut dan merupakan lokasi pelabuhan minyak Al-Dhabba, dan Bandara Internasional Al Rayyan.
Pasukan Perisai Nasional mengkonfirmasi bahwa mereka telah memberikan koridor aman bagi milisi STC, yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) untuk mundur dari Al-Mahra menuju Aden.
Mereka mengatakan pasukan STC diizinkan meninggalkan kota, hanya membawa senjata pribadi, dan menambahkan bahwa mereka telah mengamankan kendali penuh atas Pelabuhan Mukalla.
Rekaman yang disiarkan oleh TV Yaman menunjukkan pasukan pemerintah beroperasi dari Bandara Internasional Al Rayyan.
Hal ini terjadi sehari setelah pasukan pemerintah merebut kendali provinsi Al-Mahra timur dan wilayah gurun dan lembah Hadhramaut dari pasukan STC.
Yaman telah mengalami eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Selasa, setelah pasukan STC menguasai Hadramaut dan Al-Mahra pada awal Desember. Kedua provinsi tersebut mencakup hampir setengah dari wilayah Yaman dan berbatasan dengan Arab Saudi.
Arab Saudi menuduh Uni Emirat Arab (UEA) “mendorong pasukan STC untuk melakukan operasi militer” di sepanjang perbatasan selatan kerajaan di Hadhramaut dan Al-Mahra. Abu Dhabi membantah tuduhan tersebut.
STC mengatakan pemerintah Yaman berturut-turut telah meminggirkan wilayah selatan secara politik dan ekonomi dan menyerukan pemisahan diri. Pihak berwenang Yaman menolak klaim tersebut dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap persatuan negara.*




