Hidayatullah.com– Sebuah organisasi peduli hak buruh mengklaim bahwa pihaknya menemukan bukti para pekerja dieksploitasi di sebuah pabrik pembuatan boneka Labubu di China.
China Labor Watch (CLW), sebuah organisasi non-pemerintah berbasis di Amerika Serikat, mengatakan hasil investigasinya mendapati bahwa salah satu pemasok Pop Mart menyusuh buruh bekerja lembur berlebihan, menandatangani kertas kosong atau kontrak yang tidak lengkap dan tidak membayarkan uang cuti, lansir BBC Kamis (15/1/2026).
CLW menyatakan dalam laporannya bahwa mereka menyelidiki secara mendalam produsen Labubu, Shunjia Toys Co Ltd, yang terletak di provinsi Guangdong, Tiongkok selatan.
CLW mengatakan penelitinya melakukan 51 wawancara langsung dengan karyawan pabrik untuk membahas masalah perekrutan, kontrak, dan kondisi kerja mereka.
Tidak ditemukan pekerja anak di pabrik tersebut, tetapi pabrik itu mempekerjakan pekerja berusia 16 tahun yang mengalami kondisi kerja yang sama dengan orang dewasa, tanpa perlakuan khusus yang dipersyaratkan berdasarkan hukum di China.
CLW mendesak Pop Mart untuk segera mengambil tindakan guna menyelesaikan masalah pada rantai pasokannya.
Organisasi nirlaba itu mengatakan bahwa perusahaan tersebut harus memberikan kompensasi kepada pekerja yang terdampak dan memastikan bahwa lini produksinya mematuhi hukum ketenagakerjaan China serta standar ketenagakerjaan internasional.
Pop Mart mengatakan kepada BBC bahwa mereka sedang menyelidiki klaim tersebut.
Peritel mainan berbasis di Beijing itu mengatakan pihaknya menghargai tinjauan tersebut dan akan “dengan tegas” meminta perusahaan produsen mainannya untuk memperbaiki cara kerja mereka jika tuduhan tersebut terbukti benar.
Pop Mart menambahkan bahwa mereka melakukan audit rutin atas pemasoknya, termasuk tinjauan tahunan yang dilakukan oleh inspektur independen yang diakui secara internasional.
Shunjia Toys Co Ltd merupakan “fasilitas manufaktur inti” mainan Pop Mart dan mempekerjakan lebih dari 4.500 orang, menurut CLW.
Fasilitas semacam itu, yang disebut original equipment manufacturers (OEM), membuat produk sesuai dengan harga dan jadwal produksi yang ditetapkan oleh klien.*




