Hidayatullah.com– Pendiri Partai Pekerja Kurdistan (PKK) Abdullah Ocalan, yang dikurung di sel isolasi, hari Selasa (31/3/2026) mengatakan dirinya ingin dapat berbicara bebas kepada masyarakat Turki.
Tahun lalu, PKK secara resmi menghentikan perlawanan bersenjatanya terhadap negara Turki setelah empat puluh tahun melakukan aksi-aksi pembangkangan yang merenggut nyawa sedikitnya 50.000 orang di kedua belah pihak.
Dalam sebuah pesan yang dipublikasikan oleh delegasi sejumlah anggota parlemen dari partai pro-Kurdi DEM, yang diberi izin untuk menjenguk Ocalan pada hari Jumat (27/3/2026), Ocalan menegaskan kembali komitmennya terhadap proses perdamaian.
“Masa perlawanan bersenjata sudah usai. Tidak akan terulang lagi,” tegasnya, seperti dilansir AFP.
“Menurut saya penting bagi saya untuk dapat menjangkau publik yang lebih luas sehingga pandangan-pandangan saya dalam proses [perdamaian] ini bisa dipahami dengan baik.””Pemerintah harus mengakui bahwa tidak ada aktivitas merusak yang sedang dilakukan dan tidak ada ancaman bagi keamanan negara,” kata Ocalan, menyinggung sikap PKK yang sudah meletakkan senjata.
Tokoh Kurdi berusia 76 tahun itu, yang sudah mendekam selama 27 tahun di penjara, mendesak supaya komisi parlemen, yang diserahi tugas menentukan status masa depan PKK dan para bekas petempurnya, untuk segera, tanpa ditunda, membuat kerangka hukum yang komprehensif dan inklusif.
Etnis Kurdi merupakan minoritas di negara Turki, yang kebanyakan tinggal di bagian timur negara itu yang dikenal sebagai daerah Kurdistan, di mana terdapat sumber daya alam yang melimpah termasuk emas. Meskipun kekayaan alam di daerah mereka sangat banyak, masyarakat Kurdi merasa dimarjinalkan oleh pemerintah pusat dan karena itu sebagian dari mereka memutuskan untuk melakukan perlawanan bersenjata.*




