Hidayatullah.com – Entitas Zionis Israel kehilangan sekutu kuatnya di Eropa usai Viktor Orban kalah dari partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar dalam pemilu. Kekalahan ini mengakhiri pemerintahannya selama 16 tahun.
Tisza memenangkan 138 dari 199 kursi parlemen, memberikannya mayoritas dua pertiga dan kekuatan untuk mulai membongkar sebagian besar sistem politik mapan Orbán. Kekalahan Orbán terjadi setelah bertahun-tahun stagnasi ekonomi, skandal korupsi, dan meningkatnya kemarahan publik terhadap gaya pemerintahannya yang otoriter.
Hasil ini dipandang bukan hanya sebagai perubahan domestik di Hongaria, tetapi juga sebagai penolakan terhadap poros sayap kanan yang terkait dengan Orbán, Presiden AS Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Orbán telah menjadi salah satu sekutu internasional paling tersohor dari kedua pria tersebut. Trump bahkan secara terbuka mendukungnya dan Wakil Presiden AS JD Vance rela berkampanye atas namanya di Budapest selama beberapa hari.
Pemilihan umum tersebut secara luas dipandang sebagai referendum atas politik anti-Muslim dan anti-migran yang diusung Orbán, yang berakar pada etno-nasionalisme yang berkaca pada Israel.
Bagi Israel, pencopotan Orbán dipandang sangat merugikan karena ia bisa dibilang merupakan mitra Netanyahu yang paling dapat diandalkan di dalam Uni Eropa. Hongaria berulang kali berbeda pendapat dengan negara-negara anggota Uni Eropa lainnya terkait Israel, termasuk menolak untuk bergabung dengan 26 menteri luar negeri Uni Eropa lainnya dalam menyerukan gencatan senjata di Gaza.
Aliansi tersebut menjadi semakin eksplisit selama setahun terakhir. Orbán mengumumkan penarikan Hongaria dari Mahkamah Pidana Internasional setelah pengadilan tersebut mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November 2024 untuk Netanyahu dan mantan menteri pertahanan Israel Yoav Gallant.
Netanyahu kemudian mengunjungi Hongaria dengan mengabaikan surat perintah tersebut, dan memuji keputusan Orbán untuk meninggalkan ICC sebagai “berani dan berprinsip”. Parlemen Hungaria kemudian menyetujui rancangan undang-undang penarikan pasukan, yang memperjelas bahwa Orbán siap menggunakan kebijakan negara untuk melindungi pemimpin Israel dari pertanggungjawaban internasional.
Netanyahu secara terbuka merayakan hubungannya dengan Orbán. Selama kunjungan sebelumnya, ia menggambarkan Orbán sebagai “sahabat sejati Israel,” dan bulan lalu dilaporkan memuji pemimpin Hungaria itu sebagai seseorang yang “seperti batu karang.”
Kedekatan politik itu bertahan meskipun kritik yang berkepanjangan terhadap retorika anti-migran dan anti-Muslim Orbán, yang membantunya menjadi pahlawan bagi sebagian kelompok sayap kanan internasional.
Narasi anti-Muslim Orbán juga selaras dengan pandangan dunia Netanyahu. Kedua pemimpin tersebut menampilkan diri sebagai pembela peradaban “Kristen” atau “Barat” yang terkepung melawan migrasi Muslim dan Islam politik, dan keduanya menggunakan kerangka kerja itu untuk membenarkan politik yang semakin otoriter di dalam negeri dan kebijakan eksklusif di luar negeri.
Tumpang tindih ideologis ini membantu memperkuat Budapest dan Tel Aviv sebagai mitra strategis yang erat bahkan ketika Orbán menghadapi kritik atas xenofobia dan kemunduran demokrasinya.
Hubungan ini juga memberi Orbán akses yang berguna ke jaringan sayap kanan di Washington dan memperkuat upaya Netanyahu untuk membina sekutu di Eropa yang bersedia meredam kritik terhadap Israel.*




