Hidayatullah.com – Bekas penasihat Kementerian Pertahanan Irak, Maen al-Jubouri, mengatakan pergerakan militer Israel di gurun Irak dilakukan di bawah perlindungan Amerika Serikat (AS). Hal itu terjadi setelah AS “menipu” para pejabat di Baghdad.
Berbicara dalam sebuah wawancara media pada Aha , al-Jubouri mengatakan penemuan pangkalan Israel kedua yang diduga berada di Irak “kurang mengejutkan” daripada penemuan yang pertama dan bukan merupakan kejutan besar.
“Pangkalan-pangkalan ini muncul karena keadaan yang dialami kawasan tersebut. Kita tahu Irak telah menjadi arena bagi banyak aktivitas operasional dan militer,” katanya, lansir MEMO pada Senin (18/05/2026).
Menurutnya geografi militer Irak telah memberi ruang bagi Israel dan Amerika Serikat untuk beroperasi secara bebas.
Ketika ditanya apakah ia benar-benar percaya pangkalan Israel ada di Irak, al-Jubouri menjawab: “Pangkalan-pangkalan itu beroperasi di bawah perlindungan Amerika.”
“Peralatan, senjata, dan penyamaran jelas berasal dari Amerika. Operasi militer AS di Irak diizinkan berdasarkan alasan bahwa itu adalah misi khusus yang dilakukan dalam koordinasi dengan otoritas senior Irak, khususnya Komando Umum Angkatan Bersenjata. Oleh karena itu, tidak mudah bagi semua badan keamanan dan militer untuk mengetahui apa yang terjadi,” tambahnya.
Menanggapi pertanyaan tentang apakah perjanjian AS-Irak mengizinkan Washington untuk menggunakan tentara dari negara lain untuk misi di dalam Irak, al-Jubouri mengatakan hal itu dimungkinkan dalam kerangka koalisi internasional dan bahwa kegiatan semacam itu memang ada.
Namun, ia menambahkan: “Israel tidak termasuk, dan saya tidak percaya mereka dapat mendirikan pangkalan di dalam Irak.”
Al-Jubouri mengatakan penyamaran Amerika telah memberikan “kamuflase yang signifikan” di wilayah tersebut dan menyesatkan pihak Irak untuk percaya bahwa pergerakan tersebut adalah operasi AS yang terkait dengan konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat di satu sisi dan Iran di sisi lain. Ia menambahkan bahwa kurangnya kemampuan pengawasan canggih Irak telah berkontribusi pada kegagalan mendeteksi pergerakan tersebut.
Dia mengatakan bahwa masalah ini memalukan bagi pemerintah Irak, angkatan bersenjata, badan keamanan, dan diplomasi Irak.*




