Hidayatullah.com– Lebih dari 500 warga Greenland menggelar aksi protes menentang keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengendalikan pulau di kawasan Arktik yang luas itu, setelah peresmian kantor baru konsulat Amerika Serikat di Nuuk.
Kerumunan massa berteriak dan menggusung poster bertuliskan “Go Home USA,” “Make America Go Away!” dan “We are not for sale,” sementara banyak di antara mereka melambai-lambaikan bendera merah-putih Greenland, menurut seorang jurnalis AFP yang berada di lokasi di ibu kota teritori itu Kamis malam (21/5/2026).
“Asu (‘Stop’ dalam bahasa setempat) USA,” bunyi poster lain.
Trump berulang kali mengatakan bahwa Washington perlu mengendalikan Greenland karena alasan keamanan nasional, mengklaim bahwa jika tidak, wilayah otonom yang merupakan teritori Kerajaan Denmark tersebut berisiko jatuh ke tangan China atau Rusia.
Para demonstran memposisikan badan mereka membelakangi gedung konsulat dan melakukan dua menit hening untuk menyatakan ketidaksukaan mereka terhadap Amerika Serikat.
Kantor baru tersebut, yang terletak di pusat ibu kota Nuuk, sudah diresmikan beberapa waktu sebelumnya dalam seremoni yang dihadiri duta besar AS untuk Denmark, Kenneth Howery.
Lembaga penyiaran Greenland KNR melaporkan bahwa Howery mengatakan kepada para tamu di acara peresmian bahwa Trump sekarang menolak penggunaan kekerasan untuk menguasai Greenland dan mengatakan bahwa warga Greenland yang akan menentukan masa depan mereka sendiri.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menolak menghadiri acara peresmian gedung baru konsulat AS tersebut, lapor AFP Jumat (22/5/2026).
Awal pekan ini, Nielsen mengadakan pembicaraan dengan utusan khusus Trump untuk Greenland, Jeff Landry, yang melakukan kunjungan pertamanya – tanpa diundang – ke pulau itu sejak dilantik pada bulan Desember.
Landry kepada AFP hari Rabu mengatakan bahwa AS perlu memperkuat kehadirannya di pulau tersebut.
“Sudah saatnya AS kembali menjejakkan kakinya di Greenland,” katanya di akhir kunjungan empat harinya.“Greenland membutuhkan AS,” ujarnya, ngotot.*




