Oleh: Beta Pujangga Mukti
Saya masih mengingat dengan cukup jelas perjumpaan pertama itu. Awal tahun 2018, di sela-sela padatnya agenda Musyawarah Nasional Tarjih ke-30 di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, saya duduk sebagai salah satu notulen yang bertugas mencatat jalannya sidang dan aliran gagasan yang mengemuka. Di ruang-ruang musyawarah itulah saya pertama kali bertemu langsung dengan Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.A., seorang ulama yang kala itu lebih dahulu saya kenal lewat nama besar dan tulisan-tulisannya.
Beliau berbicara dengan tenang, namun pikirannya mengalir deras. Kalimat-kalimatnya tidak meninggi, tetapi menjulang. Saya mendengar dan mencatat bagaimana ayat-ayat al-Qur’an dibaca bukan sekadar sebagai teks yang dipagari masa lalu, melainkan sebagai cahaya yang menuntun realitas hari ini. Dari forum itu lahir gagasan-gagasan segar tentang fikih yang membumi tentang bagaimana agama mesti hadir melindungi kehidupan manusia modern. Di antara produk pemikiran penting yang mengemuka saat itu adalah Fikih Perlindungan Anak dan Fikih Informasi, dua ikhtiar ijtihad Muhammadiyah untuk menjawab zaman dengan keberanian ilmu dan kejernihan nurani. Dan di tengah semua itu, Prof. Hamim tampak bukan hanya sebagai pemimpin sidang, melainkan penjaga arah intelektual Muhammadiyah.
Kini, tokoh itu telah berpulang.
Hamim Ilyas meninggalkan dunia yang selama ini beliau isi dengan ilmu, keteduhan, dan pengabdian. Sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, beliau berada di salah satu simpul terpenting Muhammadiyah. Ruang tempat denyut pemikiran, istinbath hukum, dan orientasi keagamaan dirumuskan. Di tangan para ulama seperti beliau, Muhammadiyah menjaga akalnya tetap jernih sekaligus hatinya tetap hidup. Tarjih dan Tajdid adalah dua sayap Muhamamdiyah; satu menjaga akar, satu mengembangkan cabang. Tarjih menuntun umat menemukan cahaya kebenaran, sedang tajdid menjaga cahaya itu tetap menyala di setiap perubahan zaman.
Sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam bidang Tafsir Ayat-Ayat Hukum, Prof. Hamim menghadirkan tradisi keilmuan Islam yang mendalam namun tidak berjarak dengan kenyataan sosial. Ia membaca wahyu dengan kesungguhan akademik sekaligus kepekaan kemanusiaan. Tafsir baginya bukan sekadar menyingkap makna ayat, melainkan menuntun manusia agar menghadirkan keadilan dan kasih sayang dalam kehidupan.
Barangkali karena itulah beliau mempopulerkan gagasan Tauhid Rahamutiyah, sebuah ikhtiar teologis yang menempatkan rahmah sebagai inti hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Dalam gagasan itu, keimanan tidak berhenti pada pengakuan langit, tetapi menjelma menjadi kasih sayang yang bekerja di bumi. Tauhid tidak hanya melahirkan kesalehan individual, tetapi juga keberpihakan pada kemanusiaan, perlindungan terhadap yang lemah, dan tanggung jawab sosial yang nyata.
Gagasan besar itu beliau rajut pula dalam karya monumentalnya, Fikih Akbar, yang merumuskan prinsip-prinsip teologis Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Sebuah ikhtiar intelektual yang mencoba menegaskan kembali wajah Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, keadilan, dan kemaslahatan universal.
Namun, sebesar apa pun ilmunya, orang-orang justru lebih dahulu mengenang pribadinya. Beliau adalah sosok alim yang teduh. Percakapannya tidak meledak-ledak. Sikapnya rendah hati. Di ruang sidang, di forum ilmiah, maupun dalam perjumpaan sehari-hari, ia menghadirkan suasana yang menenangkan. Ada jenis kewibawaan yang tidak lahir dari suara keras, tetapi dari keluasan ilmu dan kejernihan akhlak.
Bahkan di masa-masa akhir pengabdiannya, beliau masih menerima amanah sebagai Ketua Badan Pembina Harian Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) PP Muhammadiyah, lembaga penting milik persyarikatan Muhammadiyah untuk melahirkan kader-kader ulama unggul dalam bidang ketarjihan dan pemikiran Islam. Seakan hidup beliau memang sepenuhnya diabdikan untuk merawat mata rantai ilmu agar tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hari ini, Muhammadiyah kehilangan salah satu cendekiawan terbaiknya. Dunia akademik kehilangan seorang guru. Umat kehilangan penuntun yang lembut. Namun, orang-orang seperti Prof. Hamim memang tidak benar-benar pergi.
Secara hakiki jasad beliau telah dipeluk bumi, namun secara majazi ia tinggal dalam gagasan-gagasan yang terus dibaca. Dalam murid-murid yang meneruskan nyala ilmunya. Dalam forum-forum tarjih yang kelak tetap mencari jawaban zaman dengan keberanian ijtihad dan keluasan kasih sayang. Dan terutama, ia tinggal dalam jejak keteladanan, bahwa menjadi alim tidak harus menjauh dari manusia, dan menjadi cendekiawan tidak harus kehilangan kelembutan hati.
Kepergian beliau adalah oase duka bagi dunia intelektual Islam Indonesia. Perpisahan dengan seorang cendekiawan Muslim yang kesalehan pribadinya melangit, namun kesalehan sosialnya mengakar kuat di bumi. Seorang pengemban risalah rahmat yang sepanjang hidupnya berusaha menghadirkan kasih sayang bagi segenap alam. Melalui fikiran, tulisan, lisan dan tindakan keteladanan.
Allāhumma-ghfirlahū warhamhū wa ‘āfihī wa‘fu ‘anhu.*
Penulis merupakan Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah




