Hidayatullah.com– Badan antariksa Jepang, hari Sabtu (11/7/2026), mengatakan prototipe roket guna ulang buatannya berhasil melakukan uji coba pertama meluncur dan mendarat, menandakan sebuah kemajuan yang dicapai pihaknya dalam teknologi yang didominasi oleh perusahaan Elon Musk SpaceX itu.
Prototipe itu, yang diluncurkan dari lokasi uji coba Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) di Noshiro, Prefektur Akita, sanggup mencapai ketinggian sekitar 10 meter (33 kaki) dan kemudian mendarat kembali.
Penerbangan roket itu berlangsung sekitar 40 detik, menurut JAXA.“Saya merasa kami telah mencurahkan banyak waktu dan upaya untuk ini, dan sekarang setelah prototipe berhasil lepas landas dan mendarat tanpa masalah, saya harus mengatakan saya merasa sangat lega,” kata Takashi Ito dari JAXA yang memimpin peluncuran kepada awak media seperti dilansir AFP.
Ito mengatakan bahwa lembaganya akan meninjau data untuk sepenuhnya menentukan keberhasilan tes tersebut, tetapi dia “yakin” bahwa tes itu “memperoleh data yang sangat bermanfaat.”
Kebanyakan roket dirancang untuk dipergunakan sekali saja, dengan komponennya satu persatu berjatuhan ke laut, terbakar di lapisan atmosfer atau melayang di angkasa luar sebagai sampah. Peluncuran tahap pertama dianggap sebagai komponen termahal.
Namun dengan adanya teknologi roket yang sebagian komponennya bisa dipakai ulang akan memangkas biaya peluncuran.
SpaceX sudah mengoperasikan roket pakai ulangnya Falcon 9 sejak 2017.China, berhasil melakukan pendaratan roket guna ulang pertamanya pada hari Jumat (10/7/2026), sebuah pencapaian yang akan menantang dominasi Amerika Serikat di bidang itu.
Jepang sedang berupaya keras untuk meningkatkan daya saing internasional industri roketnya.
Bulan Juni tahun lalu, sebuah anak perusahaan Honda menjadi perusahaan Jepang pertama yang berhasil meluncurkan dan mendaratkan kembali sebuah roket guna ulang.
Roket unggulan Jepang H3, yang digarap JAXA bersama Mitshubishi Heavy Industries, berhasil diluncurkan pada bulan Juni, beberapa bulan setelah misi sebelumnya untuk menempatkan satelit ke orbit berakhir dengan kegagalan.*




