Hidayatullah.com— Menjelang Idul Adha, sejumlah organisasi Muslim India menyerukan agar sapi ditetapkan sebagai hewan nasional. Mereka berpendapat langkah tersebut dapat mengakhiri kekerasan massa, politik kebencian, dan praktik main hakim sendiri yang selama ini kerap terjadi atas nama perlindungan sapi.
Presiden Jamiat Ulama-e-Hind, Maulana Syed Arshad Madani, kembali menyampaikan tuntutan yang telah lama ia suarakan. Menurutnya, isu sapi telah berubah menjadi sumber perpecahan komunal dan alat politik yang merugikan kehidupan bersama di India.
“Pembunuhan massa atas nama sapi, pembunuhan orang-orang tak bersalah, politik kebencian, dan kampanye untuk mencemarkan Muslim harus dihentikan sekarang juga,” kata Madani sebagaimana dikutip Daijiworld.
Madani menilai apabila sapi memang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan religius dan budaya mayoritas masyarakat India, pemerintah seharusnya memberikan status hewan nasional dan menerapkan aturan yang berlaku sama di seluruh negeri.
“Undang-undang apa pun yang dibuat untuk tujuan tersebut harus diterapkan secara setara di seluruh negara tanpa diskriminasi,” ujarnya sebagaimana dikutip Daijiworld.
Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai standar ganda dalam kebijakan pemerintah. Di sejumlah negara bagian, daging sapi masih dikonsumsi secara terbuka, sementara di wilayah lain isu yang sama justru memicu kekerasan terhadap kelompok minoritas.
“Ini bukan pengabdian, melainkan standar ganda dan manuver politik,” kata Madani.
Dukungan terhadap usulan tersebut datang dari berbagai organisasi Muslim. Presiden All India Muslim Jamaat, Maulana Shahabuddin Razvi, menyatakan pihaknya akan berupaya membangun kesepahaman di antara organisasi-organisasi Muslim dan menyusun memorandum bersama yang akan disampaikan kepada Perdana Menteri Narendra Modi.
“Saya menuntut Pemerintah India dan Pemerintah Uttar Pradesh mendeklarasikan sapi sebagai hewan nasional. Jika sapi dinyatakan sebagai hewan nasional, banyak persoalan akan berakhir,” kata Razvi kepada media ANI.
Menurut Razvi, penetapan sapi sebagai hewan nasional akan membantu menciptakan kerukunan sosial dan mengakhiri berbagai kontroversi yang selama ini muncul di seputar isu sapi.
Ia juga mengimbau umat Islam untuk memelihara sapi dan memanfaatkan susunya. “Saya mengimbau seluruh Muslim: peliharalah sapi dan jangan memakan daging sapi. Minumlah susunya, berikan kepada anak-anak dan orang sakit demi kebaikan mereka,” kata Razvi kepada ANI.
Dukungan serupa disampaikan Presiden All India Qureshi Jamaat, Siraj Qureshi. Menurut laporan The Indian Express, Qureshi menyatakan organisasinya telah lama mendukung penetapan sapi sebagai hewan nasional dan siap menemui pemerintah pusat untuk membahas tuntutan tersebut.
Sekretaris Jenderal All India Shia Personal Law Board, Yasoob Abbas, juga mendukung usulan tersebut. Sebagaimana dikutip The Indian Express, Abbas mengatakan tuntutan itu sah, tetapi pemerintah harus menunjukkan kesungguhan melalui kebijakan yang konsisten dan tidak berbeda-beda antarnegara bagian.
Sementara itu, Wakil Presiden Indian Union Muslim League, Kausar Hayat Khan, menilai usulan tersebut masuk akal secara teknis dan layak diwujudkan pemerintah. Ia mengkritik fakta bahwa daging sapi masih dikonsumsi secara terbuka di Goa, Assam, dan sejumlah negara bagian timur laut, sementara di wilayah lain isu yang sama justru dipolitisasi, sebagaimana dilaporkan The Indian Express.
Dukungan juga datang dari anggota eksekutif senior All India Muslim Personal Law Board, Khalid Rashid Farangi Mahali.
“Saudara-saudara Hindu kita memiliki sentimen keagamaan terhadap sapi. Karena itu, sebagai bentuk penghormatan terhadap perasaan mereka, sapi seharusnya dinyatakan sebagai hewan nasional,” kata Mahali sebagaimana dikutip The Indian Express.
Ia juga menyerukan agar seluruh organisasi keagamaan ikut mendukung penerapan satu aturan nasional mengenai penyembelihan sapi sehingga tidak ada lagi perbedaan kebijakan antarwilayah.
Menurut laporan, tuntutan tersebut mengemuka pada Idul Adha terakhir sebelum Pemilu Majelis Uttar Pradesh 2027. Karena selama ini desakan menjadikan sapi sebagai hewan nasional lebih banyak datang dari kelompok Hindu, munculnya dukungan dari organisasi-organisasi Muslim dinilai memiliki makna politik tersendiri.
Bagi para pendukungnya, usulan tersebut bukan sekadar soal status seekor hewan. Mereka melihatnya sebagai jalan untuk mengakhiri kekerasan massa, menghentikan politik kebencian, mengurangi ketegangan antarkomunitas, serta menciptakan kepastian hukum yang berlaku sama bagi seluruh warga India.
Seruan menjadikan sapi sebagai hewan nasional muncul di tengah masih berlangsungnya ketegangan terkait isu perlindungan sapi di India.
Berbagai laporan organisasi pemantau hak asasi manusia dan konflik komunal menunjukkan bahwa tuduhan penyembelihan sapi, perdagangan ternak, atau kepemilikan daging sapi masih kerap menjadi pemicu intimidasi, penangkapan, hingga kekerasan terhadap warga Muslim.
Penelitian Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) bahkan menemukan bahwa lebih dari satu dari lima serangan yang menargetkan Muslim di India pada periode 2019–2024 berkaitan dengan aksi kelompok swadaya perlindungan sapi.
Sementara itu, laporan India Hate Lab mencatat sedikitnya 1.318 insiden ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas sepanjang 2025, dengan sekitar 98 persen di antaranya menyasar Muslim. Di tengah situasi tersebut, para pendukung usulan ini berharap penetapan sapi sebagai hewan nasional dapat mengakhiri kekerasan massa, politik kebencian, dan penegakan hukum yang dianggap tidak konsisten di berbagai negara bagian India.*




