Hidayatullah.com– Perempuan dan anak-anak Australia terakhir yang ditahan di sebuah kamp di timur laut Suriah tempat penampungan kerabat tersangka ekstremis asing sudah meninggalkan lokasi tersebut untuk kembali ke negeri asalnya, kata seorang pengurus kamp kepada AFP hari Sabtu (23/5/2026).
“Dua puluh satu orang Australia meninggalkan kamp Roj pada hari Kamis (21/5) – tujuh wanita dan 14 anak-anak berusia delapan sampai 14 tahun – kata pejabat administrasi Kurdi tersebut, tanpa bersedia identitasnya disebutkan.
Pasukan Kurdi Suriah mengontrol kamp Roj, di mana kerabat para tersangka ekstremis asing termasuk orang-orang Barat ditahan selama bertahun-tahun perang sipil berlangsung.
“Mereka diserahkan kepada pemerintah Suriah dan dipindahkan ke ibu kota Suriah dengan tujuan untuk dikirim ke Australia,” kata pejabat tersebut. “Tidak ada lagi orang Australia yang tersisa di Roj.
“Awal bulan ini, sebanyak 13 orang Australia – empat wanita dan 9 anak mereka – terbang meninggalkan Suriah.
Dua di antara wanita tersebut, seorang ibu dan putrinya, ditangkap aparat setibanya di Australia. Polisi menuduh mereka memperbudak seorang wanita setelah melakukan perjalanan ke Suriah pada tahun 2014 untuk mendukung kelompok ISIS, dan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan saat hidup di bawah kekhalifahan yang diproklamirkan sepihak oleh ISIS. Mereka ditahan oleh pasukan Kurdi sejak 2019.
Seorang wanita ketiga juga ditangkap setibanya di Australia dan dijerat dakwaan memasuki area terlarang dan bergabung dengan sebuah organisasi teroris.Wanita keempat tidak ditangkap.
Ratusan wanita dari negara-negara Barat terkena bujuk rayu untuk berangkat ke Timur Tengah ketika ISIS semakin berjaya di awal tahun 2010-an, dalam banyak kasus mereka mengikuti suami yang telah mendaftar sebagai pejuang kelompok ekstremis.
Kala itu, Australia mengatakan bahwa bepergian ke daerah-daerah basis kelompok ISIS, seperti Provinsi Raqa di Suriah, merupakan suatu pelanggaran hukum.
Kelompok-kelompok kecil perempuan dan anak-anak kembali ke Australia pada tahun 2019 ketika ISIS mulai kehilangan wilayah kekuasaannya, kemudian beberapa kelompok lain menyusul pada 2022, dan 2025.*




