Hidayatullah.com– Otoritas Iraq memperkirakan produksi minyak akan kembali ke level masa damai dalam kurun waktu dua bulan, lapor media pemerintah, setelah perang di kawasan Timur Tengah menyebabkan ekspor menurun tajam.
Juru bicara Kementerian Perminyakan Salim Farhoud, mengatakan kepada kantor berita milik pemerintah Iraq News Agency (INA) pada Jumat malam (19/6/2026), “Kita dapat kembali ke tingkat produksi sebelumnya dalam waktu satu hingga dua bulan.”
“Ladang-ladang minyak yang sebelumnya mengurangi kapasitas produksinya sekarang sudah mulai meningkatkan kapasitasnya,” kata Salim Farhoud seperti dilansir AFP.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari, angka ekspor minyak Iraq mencapai 3,5 juta barel per hari, yang kebanyakan diangkut ke luar negeri lewat jalur maritim melalui Selat Hormuz.
Namun, anggota pendiri OPEC itu terpaksa menghentikan produksi di banyak ladang minyaknya karena reservoirnya terisi penuh, serta membatasi ekspornya melalui rute yang melewati negara tetangga, Turki dan Suriah.
Selat Hormuz kembali dibuka menyusul penandatanganan kesepakatan awal pekan ini antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik.
Menteri Perminyakan Iraq Bassem Khodeir hari Jumat mengatakan kepada INA bahwa ekspor akan dipulihkan secara bertahap berdasarkan kelancaran arus ekspor melalui Selat Hormuz.
Pada bulan April, ekspor minyak mentah Iraq melalui jalur laut tersebut menurun menjadi 10 juta barel dari rata-rata 93 juta sebelum perang, menurut pihak berwenang.
Iraq sangat bergantung pada ekspor minyak mentah, yang normalnya mencapai 90 persen dari total pendapatan negara.*




