Hidayatullah.com— Pemerintahan Kolombia yang baru hari Senin (10/8/2026) memberikan pengakuan terhadap klaim Zionis Israel atas wilayah Dataran Tinggi Golan, yang dicaploknya dari Suriah pada tahun 1967. Pada hari yang sama negara Amerika Selatan itu diguncang gempa dengan magnitudo 7,4 yang merenggut sedikitnya 164 jiwa.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella hari Jumat (7/8/2026) berhasil naik ke puncak kekuasaan menyusul kampanye bombastis yang menjanjikan hubungan erat dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai upaya untuk memerangi kelompok-kelompok bersenjata di dalam negerinya sendiri.
“Pemerintah Kolombia mengakui kedaulatan Israel atas teritori ini, serta hak negara [Israel] untuk melindungi dirinya dari ancaman eksternal,” kata Kementerian Luar Negeri Kolombia lewat pernyataan yang diunggah ke platform X.
“Kolombia mengakui bahwa mempertahankan kendali dan kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan merupakan komponen penting dari pertahanan nasionalnya,” imbuh pernyataan itu, yang dirilis hari Senin (10/8/2026) bersamaan dengan terjadinya gempa besar 7,4 magnitudo di bagian barat negara itu yang menewaskan sedikitnya 164 orang.
Amerika Serikat sampai sekarang merupakan satu-satunya negara yang mengakui aneksasi wilayah Suriah itu pada 1981.
Perserikatan Bangsa-Bangsa masih menganggap bahwa dataran tinggi yang subur itu merupakan wilayah kedaulatan Suriah yang dijajah dan diduduki militer Israel.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengucapkan terima kasih kepada “sahabat baiknya” De la Espriella atas pengakuan tersebut.
Keduanya telah menyepakati rencana pengakuan itu di kota Barranquilla, Kolombia, katanya, sehari sebelum pelantikan De la Espriella sebagai presiden.
“Perbatasan defensibel sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa Yahudi di tanah air bersejarah kami,” tulis Saar, yang menghadiri upacara pelantikan De la Espriella, di platform X.
Bulan lalu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan kembali bahwa Dataran Tinggi Golan adalah bagian dari Suriah, dan menggambarkan pendudukan Israel atas wilayah itu sebagai “sama sekali tidak dapat diterima.”
Pendahulu De la Espriella yang berhaluan kiri, Gustavo Petro, dengan keras mengkritik serangan Israel atas Jalur Gaza, memutuskan hubungan diplomatik dengan Tel Aviv, dan menghentikan impor senjata dari Israel.
De la Espriella, pengusaha jutawan yang didukung pemerintah Amerika Serikat pimpinan Donald Trump, sekarang menjungkirbalikkan kebijakan presiden pendahulunya.
Bulan lalu, dia mengatakan berencana membuka kedutaan besar Kolombia di Yerusalem atau Al-Quds, kota yang termasuk bagian dari wilayah Palestina yang diakui secara sepihak oleh Zionis sebagai ibu kota sesungguhnya negara Yahudi Israel.
Gempa besar di bagian barat Kolombia
Di hari yang sama pengakuan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel diberikan oleh pemerintah Kolombia, gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang bagian barat negara Amerika Latin itu pada dini hari.
Upaya penyelamatan di seluruh Kolombia berlanjut hingga hari kedua pada hari Selasa (11/8), dengan laporan sejauh ini 164 orang tewas dan banyak lainnya mengalami luka-luka.
Gempa tersebut meruntuhkan bangunan-bangunan bertingkat di sejumlah kota seperti Pereira dan Cali, dan merontokkan salah satu menara katedral bersejarah di kota Manizales.
Di Cali, kota berpenduduk sekitar 2,2 juta orang, setidaknya 85 orang tewas. Puluhan bangunan miring atau hancur total, sehingga memaksa warga mengungsi ke jalanan.
Beberapa lantai teratas dari salah satu rumah sakit di kota itu – sebagian di antaranya khusus untuk perawatan anak – runtuh. Akibatnya pasien terjebak, dan sekitar 600 pasien lainnya terpaksa dirawat di jalan yang dipenuhi puing-puing, kata direktur rumah sakit Irne Torres Castro kepada televisi Caracol.
Di Pereira, ibu kota negara bagian Risaralda yang terdampak parah, pihak berwenang melaporkan kematian 66 orang.
Sebagian bangunan di kota itu mengalami kerusakan yang menyolok, dengan seluruh blok perumahan hancur menjadi reruntuhan beton dan baja bengkok.
Sebanyak 13 orang lainnya meninggal di Choco, provinsi pedesaan yang paling dekat dengan pusat gempa, lansir Reuters.
Presiden Abelardo De La Espriella, yang baru menjabat beberapa hari, mengatakan 35 orang tewas di Cali saja, sementara 188 orang hilang. Dia mengatakan 1.000 anggota pasukan keamanan akan dikerahkan ke kota itu, menyusul adanya laporan tentang penjarahan.
Bencana alam tersebut mengingatkan orang akan gempa 1999 yang mengguncang daerah penghasil kopi yang sama, yang kala itu merenggut nyawa lebih dari 1.000 orang.*




