Hidayatullah.com – Wahdah Islamiyah bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada awal pekan ini menggelar standardisasi dan sertifikasi dai besar-besaran.
Diikuti 600 dai dan daiyah dari berbagai daerah, kegiatan ini menjadikan Wahdah Islamiyah sebagai organisasi masyarakat Islam pertama di Indonesia yang menggelar standardisasi dalam skala besar dengan MUI.
“Ini rekor dan langkah monumental bagi pergerakan dakwah kita,” kata Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis di hadapan ratusan peserta melansir MUI Digital pada Senin (24/08/2026).
Inisiatif standarisasi ini dinilai penting untuk menjaga marwah profesi dai agar tetap berada pada koridor keilmuan agama yang mendalam, beretika, serta terhindar dari komersialisasi belaka.
Kiai Cholil menilai dai merupakan profesi mulia sehingga jangan sampai diisi oleh orang-orang yang mengambil aspek bisnisnya saja, namun tidak mendalami ilmu agama yang sebenarnya.
“Dai ini harus punya fungsi memandu opini masyarakat dengan ajaran Islam yang wasathiyah (moderat),” ujar Kiai Cholil.
Dai Perekat Ukhuwah
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah itu berpesan agar para lulusan sertifikasi dai selalu menjadi perekat persatuan dan tidak terjebak pada perdebatan khilafiyah yang dapat memecah belah.
Menurutnya, menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kewajiban utama yang tidak boleh terabaikan oleh amalan yang bersifat sunnah.
Dia berkelakar, nama Wahdah itu bukan nama kaleng-kaleng, harus jaga persatuan. Jangan sampai perkara yang sunnah mengalahkan yang wajib.
“Menjaga ukhuwah itu wajib. Kalau kita mudah dipecah belah, kita tidak bisa menjadi kekuatan yang utuh,” kata dia menambahkan.
Lebih lanjut, MUI memuji kontribusi spesifik Wahdah Islamiyah yang dinilai melengkapi barisan ormas-ormas Islam Indonesia lainnya.
Jika Muhammadiyah unggul di sektor amal usaha dan Nahdlatul Ulama (NU) berakar kuat pada tradisi pesantren, Wahdah Islamiyah dinilai memiliki keunggulan dalam mengenalkan ajaran Islam hingga ke pelosok daerah yang minim tersentuh dakwah.
Dia mengatakan, dmana ada tempat yang masyarakatnya belum mengenal Islam dengan baik, di situ ada kader Wahdah yang hadir mengenalkan umat kepada agamanya.
“Ormas tidak boleh menjadi sekat, melainkan wadah untuk saling membanggakan dan menguatkan,” kata dia.
Melalui sertifikasi ini, 600 dai dan daiyah Wahdah Islamiyah diharapkan mampu tampil sebagai garda terdepan dalam membimbing umat, menyebarkan pemahaman Islam yang toleran dan dinamis, serta membentengi masyarakat dari ancaman perang pemikiran (ghazwul fikri) di era digital.
Kegiatan Sertifikasi Dai/Daiyah adalah merupakan rangkaian dari Muktamar V Wahdah Islamiyah yang sukses terlaksana di di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Kegiatan Sertifikasi ini diikuti oleh 600 peserta dari berbagai penjuru daerah.*




