Mimpi Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Ismail, menjadi asal usul disyariatkannya penyembelihan hewan kurban pada lebaran Idul Adha. Mimpi ini menjadi ujian ketaatan bagi Ibrahim. Sudah sekian lama ia menantikan lahirnya seorang anak, tapi tak kunjung datang. Ketika datang, ia justru diperintahkan oleh Allah subhanahu wata ‘ala menyembelihnya. Kalau kita ada di posisinya ketika itu, mungkin kita akan merasa sangat berat dan tidak sanggup melakukannya.
Tapi Ibrahim tidak. Baginya, sami’na mastatha’tum. Tidak ada sesuatu yang tinggi jika dibandingkan dengan perintah Allah. Ismail pun memahami bahwa ini adalah perintah Allah. Karenanya, dengan penuh keimanan, ia ikhlas disembelih oleh ayahnya sendiri. “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” kata Ismail menguatkan ayahnya (QS: Ashshaffat:102). Subhanallah!
Keikhlasan, ketaatan, dan pengorbanan kedua manusia pilihan ini kemudian diapresiasi oleh Allah. Detik-detik sebelum Ismail disembelih, Allah menggantinya dengan seekor domba. Di sini Allah menunjukkan rasa kasih sayang-Nya kepada manusia. Bahwa manusia tidak boleh dikurbankan.
Makna Berkurban
Kata “kurban” berasal dari bahasa Arab yang artinya mendekatkan diri kepada Allah. Penyembelihan hewan kurban sesungguhnya adalah ibadah ritual yang disunahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sama seperti ibadah ritual lainnya seperti shalat, melempar jumroh, tawaf, dan lain sebagainya. Artinya ketika hewan kurban sudah disembelih, maka ibadah ritualnya telah selesai dilaksanakan. Soal pembagian daging kurban kepada yang berhak menerima di luar ibadah ritual ini. Makanya, pada masa lalu, di tempat penyembelihan hewan di Mina, tubuh-tubuh kambing atau unta yang disembelih, langsung dibuang begitu saja. Karena ibadah ritualnya sudah selesai. Belakangan ada badan sosial yang peduli dengan nasib umat Islam di berbagai wilayah yang ditimpa kelaparan dan kemiskinan. Mereka mendirikan pabrik kornet agar dagingnya bisa dimanfaatkan secara lebih luas (Ahmad Sarwat Lc MA, rumahfiqih.com).
Boleh dikatakan penyembelihan hewan kurban adalah ibadah ritual, sementara pembagian daging kepada yang membutuhkan adalah ibadah sosial. Ibadah yang kedua ini mengandung arti kepedulian kepada sesama. Hanya manusia-manusia yang empati, ikhlas, dan tak cinta dunia (hubbuddunya) saja yang dapat melakukannya. Sebab harta hewan ternak yang dimiliki atau dibeli untuk dikurbankan nilainya tidak murah.
Lembaga Kemanusiaan Dompet Dhuafa telah membantu menyalurkan kepedulian manusia-manusia baik hati tadi. Sejak tahun 1994, lebih dari 200 ribu hewan kurban didistribusikan ke penjuru dunia, termasuk ke wilayah yang miskin, tertinggal, dan pedalaman. Juga ke wilayah yang belum pernah menikmati daging hewan kurban, dan wilayah bencana atau rentan konflik.
Salah satu warga miskin Ronting Manggarai Timur Nusa Tenggara Timur, Ibu Kalsum, mengaku sangat senang dan bersyukur mendapatkan daging kurban dari Dompet Dhuafa pada tahun lalu.
“Untuk membeli daging kurban sendiri kami belum mampu. Suami saya seorang buruh tani dan kami harus menghidupi tiga anak dengan penghasilan seadanya. Maka itu kami sangat bahagia ketika Idul Adha datang dan rezeki daging datang,” tuturnya.
Kurban yang datang pada Ibu Kalsum menyadarkan bahwa masih banyak saudara seiman yang peduli kepada mereka. Inilah keindahan kurban.
Tidak sekadar mendistribusikan ke wilayah-wilayah tadi, Dompet Dhuafa juga memperhatikan kualitas hewan kurban. Dompet Dhuafa memperhatikan kualitas hewan dari bobot hidupnya, kesehatan dan fisiknya, pelaksanaan pemotongannya, dan pastinya tepat sasaran. Proses quality control selalu dilakukan Dompet Dhuafa guna memastikan ibadah kurban Anda berkualitas. Mulai dari fase pengadaan sampai pemotongan yang sesuai dengan syariat. Jadi hewan kurban Dompet Dhuafa dijamin berkualitas.
Laporan kurban Dompet Dhuafa juga transparan. Anda jangan khawatir. Karena Dompet Dhuafa akan memberikan laporan kurban secara lengkap, dan akan selalu diberikan update ketika pemotongan.
Selain itu, Dompet Dhuafa juga memberdayakan peternak dan ekonomi desa. Dompet Dhuafa memberdayakan peternak lokal binaan Dompet Dhuafa untuk mandiri. Selain pemberdayaan peternak, hal ini juga turut menguatkan ketahanan pangan masyarakat yang jarang menikmati daging hewan kurban.
Jadi jangan ragu lagi untuk berkurban di Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa, membentang kebaikan kurban untuk Indonesia dan dunia.
Info selanjutnya untuk berkurban di Dompet Dhuafa.*/Andi