Hidayatullah.com—Di bawah pohon rindang, sekitar 20 orang remaja putri berkumpul. Mereka duduk melingkar. Para remaja yang tergabung dalam Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), Menteng, Jakarta itu mengadakan rihlah ke Kebun Raya Bogor (KRB) pada hari Ahad, 6 Oktober 2013.
Acara itu juga dihadiri oleh para Mentor RISKA ini diharapkan merekatkan kembali ukhuwah di antara mereka.
Selain saling bertukar makanan dan kado, mereka juga membicarakan tentang masalah yang perlu dicermati para remaja Muslim saat ini.
Uchi Nara, salah satu RISKAder, demikian sebutan untuk para anggota RISKA yang merupakan juga mahasiswi desain grafis, STIKOM Interstudi, Jakarta itu juga menjelaskan bagaimana sesungguhnya kekacauan dunia juga akibat provokasi kelompok tertentu.
“Beberapa waktu lalu, aku nonton film yang memperlihatkan kekacauan dunia tahun 2040. Ternyata semua kekacauan itu dikontrol oleh pihak tertentu. Tapi ga disebutin siapa, dan tiba-tiba ada simbol mata satu dari atas belakang saat kekacauan berlangsung,” ungkap gadis berusia 22 tahun itu.
“Kalau kita perhatikan, saat ini mulai muncul komik atau film dengan simbol-simbol Zionis,” ucap Uchi lagi.
Menurut Uchi, sebagai remaja putri, sudah seharusnya mereka memberikan perhatian lebih pada perkembangan Islam secara global. Tidak hanya melalui film saja, tapi juga kalangan yang menggunakan simbol mata satu itu sudah mengadopsinya sebagai simbol untuk komik atau produk lainnya.
“Tanpa mereka tahu apa maksud simbol itu, mereka mau-mau saja menggunakannya cuma buat keren-kerenan,”ulasnya. Padahal jika ditilik dari ilmu semiotika-ilmu yang membahas pesan dibalik simbol dan kejadian- lambang mata satu memiliki arti yang besar terutama terkait dengan perlawanan terhadap Islam.
Diskusi berlangsung seru. Pendapat Uchi ditanggapi oleh teman lainnya. Tidak hanya membahas soal simbol mata satu, para remaja putri yang terdiri dari berbagi angkatan itu juga membahas tentang pembinaan kelompok yang kendur.
Memakmurkan Masjid
Di RISKA, para remaja itu dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil yang dinamakan Dinamika Kelompok (DK). Melalui DK, mereka mengalami proses pembinaan.
Anggota DK terdiri beberapa orang. Jumlahnya tidak sama antara satu kelompok DK dengan lainnya. Jika dilihat dari lingkaran-lingkaran yang dibentuk disudut-sudut masjid di hari minggu, jumlah mereka tidak lebih dari 12 orang/kelompok. Jumlahnya bahkan fluktuatif setiap minggunya. Hal ini tergantung seberapa banyak RISKAder yang memiliki komitmen tinggi untuk berproses bersama. Masing-masing DK akan mendapat satu kakak pembina. Mereka menyebutnya sebagai kakak Mentor.
Sementara itu, Mudji Pamulatsih, salah satu pembina DK mengatakan di tempat inilah mereka dibina. Para remaja akan diberikan materi dasar keislaman dengan materi disesuaikan dengan pemahaman masing-masing anggota.
“Karena itulah masa pemindahan masing-masing anggota berbeda,”ungkap wanita yang sudah 15 tahun menjadi RISKAder itu.
Ia mengakui bukan hal mudah membina remaja. Selama 11 tahun menjadi Mentor di RISKA, Mudji sudah mengalami dinamikanya berinteraksi dengan mereka. Setiap remaja memiliki karakternya sendiri. Apalagi RISKA sejak awal pendiriannya, tahun 1974, menyasar remaja untuk memakmurkan kegiatan masjid.
“Orang yang masuk RISKA ini niat awalnya macam-macam. Mulai dari nyari jodoh, ngaji, organisasi sampai orang yang masih preman tapi mulai terketuk hatinya untuk lebih dekat ke masjid, juga ada,” ulas perempuan yang mengaku berjilbab ala kadarnya ketika masuk ke RISKA.
Menjadi seorang mentor diakui oleh Mudji, harus memiliki keikhlasan dan kesabaran yang tinggi.
“Jadi mentor tuh harus punya hati seluas samudera,”katanya mengibaratkan. Tidak hanya karena usia anak binaan yang masih dalam tahap mencari jati diri, tapi juga karena pemahaman mereka tentang Islam yang masih perlu dipupuk.
Kesabaran perempuan yang saat ini bekerja di bagian laboratorium di RS. MH. Thamrin , Jakarta Pusat itu, lagi-lagi diuji. Pernah suatu ketika Ia mendapat telepon dari orangtua anak binaannya.
“Ibu anak itu tanya, kenapa anaknya tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan secara sepihak. Kabarnya kepincut sama anak RISKA,”ucapnya.
Persoalan itu membuat Ia dan beberapa Mentor lainnya sampai turun tangan. Tidak hanya mendudukan persoalan pada anak itu, tapi juga pada orangtua anak binaan tersebut.*/kiriman Rias Andriati