Hidayatullah.com–Luruskan motivasi dan benahi orientasi serta kompetensi. Persiapkan ruhiyah, fisik, sosial, pengetahuan dan finansial. Semua itu adalah mujahadah untuk menggapai pernikahan full barakah.
Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Dwi Budiyanto, Trainer Prophetic Leadership, dalam acara Kajian dan Diskusi Keislaman Pascasarjana (KUPAS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Jumat, (25/03/2016).
Acara yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini dihadiri oleh 150 orang peserta dengan mengusung tema “Memantapkan Hati Menuju Pernikahan Full Barakah”.
Menurut Dwi, untuk mendapatkan keberkahan, orientasi berkeluarga tidak boleh berhenti hanya untuk kepentingan dunia semata tapi juga harus sampai ke kampung akhirat.
“Dengan visi-misi Surga tersebut maka mewujudkan keluarga yang dipenuhi keimanan dan ketaatan pada Allah bukanlah perkara ringan. Tapi itulah perjuangan” ucap Dwi yang juga dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNY.
Uniknya menurut Dwi, seringkali tanpa sadar manusia sendiri yang menyusahkan dirinya dalam mendapatkan pasangan hidup. Hal itu disebabkan oleh banyaknya kriteria yang ditetapkan ketika ingin menentukan pasangan.
“Karakter atau kriteria yang diminta itu kadangkala mempersulit diri sendiri. Sebagian manusia hanya fokus menuntut kriteria dari orang lain, lalu melupakan usaha untuk memantaskan diri,” ungkap Dwi Budiyanto.
“Dikiranya sebuah keluarga sakinah hanya terwujud jika sudah memenuhi kriteria dan keinginan pribadi dari pasangan hidup saja,” papar Dwi kembali.
Hal itu dibuktikan sebelumnya oleh pemateri dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta, laki-laki (ikhwan) ataupun perempuan (akhwat) tentang kriteria calon istri/suami yang diinginkan.
Sebagian ikhwan menuliskan kriteria ideal yang diinginkan, Mulai dari penghafal al-Qur’an, berakhlak baik, dari keturunan yang baik, keibuan, bisa memasak, mencuci, subur, dan sebagainya. Sedang peserta akhwat diwakili oleh seorang yang menyebut kriteria, perjaka, sudah bekerja, baca al-Qur’an baik, dan seterusnya.
Menurut penulis buku “Segenggam Rindu untuk Istriku” ini, semua kriteria yang disebut di atas tak masalah sepanjang sejalan dengan upaya memantaskan diri dan berbenah sesuai dengan orientasi keluarga seorang Muslim.
“Menumbuhkan ketaatan dan keimanan pada pasangan, itulah yang hebat. Orang itu dianggap mulia jika ia teguh untuk memberi yang terbaik kepada pasangannya. Dibutuhkan kesabaran dan keluwesan dalam menghadapi berbagai cobaan dan masalah nantinya,” tegas Dwi menerangkan.
Untuk diketahui, kegiatan kajian dan diskusi keislaman ini diselenggarakan berdasarkan need assesment yang dipelopori oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Diharapkan hal ini menjadi sarana dalam bentuk pemenuhan kebutuhan belajar tentang apa saja yang harus dipersiapkan sebelum pernikahan.
“Ada sejumlah pelajaran dan hikmah pernikahan yang mungkin tidak diperoleh melalui bangku kuliah,” ucap Irwan, Ketua Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) UNY.
Dalam acara yang sama, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) UNY juga berkesempatan melakukan sosialisasi program yang dimiliki. Di antaranya, Kajian dan diskusi keislaman Pascasarjana (KUPAS), Kajian rutin kemuslimahan (KARIMAH), Bimbingan Tahsin al-Quran, Lomba MTQ, Syiar (ilmu, motivasi, nasihat Islam) lewat media sosial dan media cetak.*/Siti Rofiqoh, pegiat PENA Yogyakarta