SAYA kaget ketika petugas memintaku membayar 8,5 juta rupiah. Untuk ukuran kantongku, jumlah itu sangat besar. Perkiraan saya antara 3-4 juta rupiah.
Uang itu untuk membayar biaya operasi kelahiran anakku. Sebenarnya, aku dan istri sepakat memilih kelahiran biasa, meski usia istriku sudah 44 tahun. Karena jantung janin dianggap lemah, kami terpaksa menuruti saran dokter untuk operasi cesar.
Saya terpaksa merogoh kantong dalam-dalam, agar anak saya bisa segera saya bawa pulang. Tak apalah keluar uang banyak, terpenting anak dan istri saya selamat. Apalagi saya ikut asuransi. Biaya itu nanti bisa saya klaimkan kepada asuransi. Hati saya pun jadi tenang.
Tetapi ketenangan itu tak lama. Saya tiba-tiba didera tanda tanya. Klaim asuransi tentu ada persyaratan. Salah satu persyaratannya, biaya persalinan yang ditanggung hanya sampai anak ketiga. Lebih dari itu ditanggung sendiri.
Anak saya yang tercatat di KSK (Kartu Susunan Keluarga) memang hanya dua. Tetapi faktanya istri pernah melahirkan empat kali. Anak ketiga begitu lahir langsung meninggal, sehingga tak sempat tercatat di KSK. Anak yang sekarang lahir adalah anak keempat.
Ah, toh yang tercatat di KSK baru dua. Ada peluang untuk mendapatkan klaim dari asuransi. Apalagi saya teliti surat dari dokter tidak ada yang menyatakan ini kelahiran yang keempat. Itu berarti peluang klaim saya dikabulkan makin besar.
Tiba-tiba hati saya tidak nyaman. Bukankah ini berarti saya melakukan kebohongan? Kebohongan tentu dosa dan saya juga tak mau makan uang haram! Di sisi lain, membayangkan dapat uang 8,5 juta begitu menggiurkan. Dengan uang sebanyak itu, banyak hal yang bisa dilakukan. Waduh, bagaimana ini?
Terjadi perang batin, antara mundur dan terus mengajukan klaim. Kalau mundur uang jutaan melayang, tapi jika maju saya sudah melakukan kebohongan. Rupanya bisikan setan lebih kuat ketimbang suara hati nurani. Kibasan uang jutaan begitu menggoda. Saya pun meluncur ke kantor asuransi.
Beberapa saat melibas jalan, terdengar azan dhuhur. Karena sudah terbiasa shalat berjamaah di masjid, saya merasa tak enak jika tidak memenuhi panggilan adzan itu. Di masjid jami Sidoarjo saya akhirnya ikut shalat Dhuhur. Usai shalat saya berdoa, “Ya Allah, jika ini halal bagiku berilah kemudahan. Tetapi jika dosa, jauhkanlah.”
Dengan berdoa begitu, hati saya jadi tenang. Saya yakin Allah bakal memberikan yang terbaik. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik bagiku. Saya pun menggeber montor takut petugas asuransi keburu istirahat.
Di hadapan petugas saya bilang anak ketiga sambil menyodorkan bukti-bukti berupaka foto copy KSK dan surat rekomendasi dari dokter. Petugas perempuan itu kemudian ijin masuk ke dalam, “Saya prosesnya dulu ya Pak,” katanya.
Tak berapa lama, perempuan itu kembali. “Maaf Bapak, berdasarkan surat dokter ini istri Bapak sudah melahirkan empat kali,” katanya.
Plok!!!!!! Pipi saya mendadak terasa panas seperti habis ditampar iblis. Saya malu bukan kepalang. Andaikan disamping saya ada lubang, secepatnya saya masuk ke lubang itu untuk menutup rasa malu.
Rupanya, dalam surat dokter itu ada kode yang tidak saya pahami. Kode itu menyatakan kelahiran keempat. Tak ingin malu lebih lama, saya cepat-cepat pamit sambil minta maaf.
Anehnya, begitu keluar dari kantor asuransi saya merasa plong. Hati saya seperti bebas dari beban berat. “Ya Allah, terima kasih Engkau telah membebaskan saya dari dosa,” bisik saya dalam hati.*/Abu Ahlam, dikutip dari Suara Hidayatullah