Hidayatullah.com– Jelang Ramadhan 1437 H, Sidang Terbuka Doktor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat, menetapkan Doktor Pendidikan Islam ke-116, Kamis (02/06/2016).
Gelar itu disematkan kepada Nassila Ben Said Hassan, mahasiswa asing asal Republik Islam Federal Komoro.
Sebelumnya, Abu Aiman, demikian ia biasa disapa, berhasil mempertahankan disertasinya di depan dewan penguji yang diketuai langsung oleh Rektor UIKA, Dr. H. Ending Bahruddin.
Disertasi itu berjudul “Uslub Al-Kinayah Wa Dilalatuhu At-Tarbawiyah Fi Al-Qur’an Al-Karim (Dirasah Tahliliyyah Fi Surah Al-Baqarah wa Ali Imran wa An-Nisa)”.
Hadir sebagai tim promotor dan penguji, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, Prof. Dr. Abuddin Nata, Dr. Abas Mansur, Dr. Adian Husaini, Dr. Nirwan Syafrin dan Dr. Akhmad Alim.
Dalam penelitiannya, Abu Aiman mengungkap berbagai metode Kinayah dalam tiga surat pada al-Qur’an di atas (Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa) untuk diterapkan di bidang pendidikan.
Menurut dosen Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar-Raayah, Sukabumi tersebut, al-Qur’an sebagai petunjuk sudah menghimpun semua ilmu yang dibutuhkan oleh manusia. Termasuk metode dan cara yang digunakan dalam pendidikan.
“Kinayah ini memiliki hubungan yang signifikan dengan pendidikan dan itu bisa dipelajari dalam al-Qur’an,” terang dosen pakar Ilmu Balaghah ini.
Diakui Abu Aiman, ia terdorong melakukan penelitian disebabkan adanya benturan pemikiran dan budaya hingga ke persoalan bahasa dan istilah.
“Sebagian pendidikan modern saat ini cenderung terlihat mengabaikan adab dan nilai religius yang ada dalam al-Qur’an,” ucapnya.
Kajian Rumit
Kerumitan disertasi sekaligus wawasan luas sang peneliti juga diamini oleh Nirwan Syafrin, selaku promotor Abu Aiman.
“Kajian tersebut rumit dan butuh pemahaman yang dalam. Tidak banyak judul yang digagas seperti ini,” ucap Nirwan, yang juga peneliti INSISTS tersebut.
Selanjutnya, Abu Aiman dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”. Lebih dari itu, ia tercatat sebagai sebagai mahasiswa asing pertama yang meraih doktor di UIKA Bogor.
Dalam kesempatan terpisah, Didin Hafidhuddin mengapresiasi Abu Aiman atas kegigihannya menyelesaikan pendidikan.
Diharapkan, UIKA makin meningkatkan kiprah dan pelayanannya sebagai rujukan untuk belajar keislaman secara baik dan benar.
“Kita ingin ada rujukan tempat kaderisasi umat yang berpihak pada kebenaran, kejujuran, keadilan, persamaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal,” tutup Didin.*/ Kiriman Muawwin Bihac Zamzami, UIKA Bogor