Hidayatullah.com– Beberapa waktu lalu, sebuah pesantren di Desa Batakte, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan pemotongan hewan qurban sebanyak 13 ekor sapi dan 27 ekor kambing.
Daging qurban ini dibagikan ke beberapa titik di daerah Kupang dan sekitarnya. Di antaranya ke masyarakat Pulau Kera, Pantai Tablolong, Desa Boniana, Kabupaten So’e, dan warga non-Muslim sekitar pesantren.
Panitia qurban menyampaikan, untuk pembagian kepada non-Muslim dilakukan sebagai sumbangan. Diketahui di wilayah sekitar pesantren itu ada sekitar 210 warga non-Muslim termasuk sejumlah pendeta.
Setiap tahun jika ada pemotongan di pesantren ini, selalu diberi sumbangan kepada masyarakat non-Muslim. Hal itu guna menjaga toleransi dan kerukunan antar umat berbeda agama, jelas Mamang selaku pengurus pesantren.
Hewan qurban ini diberikan oleh unsur pemerintahan yaitu BPKP NTT, PLTU Kupang, dan Rohis As Syifah Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan NTT. Ada pula dari simpatisan setempat serta donatur BMH Semarang-Kupang.
Dikagumi non-Muslim
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap ada pemotongan hewan qurban oleh Pesantren Hidayatullah itu, pihak aparatur desa sekitar turut menyaksikan.
Masyarakat non-Muslim setempat ada yang sempat menyaksikan pemotongan. Sampai ada yang terheran-heran dan kagum dengan cara pemotongan hewan ala Islam.
“Kali ini pemotongan mengalami peningkatan dari sebelumnya. Setahun yang lalu hanya 8 ekor sapi dan 20 ekor kambing,” ujar Mamang usai Hari Raya Idul Adha 1437 H, Senin (12/09/2016).
Kami dan kawan-kawan juga melakukan penyaluran daginq qurban ke Pulau Kera yang berada di bibir Teluk Kupang. Ratusan warga Muslim berdomisili di pulau itu.
Hingga kini Pulau Kera tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat. Menurut laporan warga setempat, mereka tidak diakui dan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga, dan Akte Kelahiran.
Masyarakat di sana juga kebanyakan anak-anaknya tak bersekolah dan buta huruf.
Mereka memiliki sebuah madrasah tetapi hingga kini madrasah itu rata dengan tanah, akibat diterjang angin puting beliung. [Baca: Robohnya Madrasah di Pulau Kera].* Kiriman Abu Zain Zaidan, pegiat komunitas menulis PENA NTT