Hidayatullah.com–Saat umat Muslim merayakan Idul Adha tahun ini, warganet mendapatkan ‘kejutan’ berupa sejumlah cuitan yang sangat kontroversial. Cuitan tersebut berasal dari akun Twitter @mubaadalah_news, berisikan sebuah infografis yang memuat sebuah tafsir feminis tentang peristiwa Idul Adha.
Pada hari Jum’at (31/07) silam, infografis yang dimuat oleh akun tersebut memuat sebuah tulisan yang diberi judul “Memaknai Idul Adha: Hajar Sebagai Simbol Perjuangan Melawan Ketidakadilan”. Kandungan tulisan tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut (cetak tebal mengikuti teks aslinya):
Salah satu aktor penting yang seringkali dilupakan dalam perayaan Idul Adha adalah Ibu Hajar r.a. Beliau adalah seorang budak kulit hitam yang dimiliki Sarah r.a., istri Ibrahim a.s. Ketika pasangan Ibrahim-Sarah tidak segera memiliki anak, Sarah menawarkan kepada Ibrahim untuk mengambil Hajar sebagai selir Supaya mereka memiliki anak. Tak lama berselang, lahirlah Ismail.
Sayangnya, apa hendak dikata, ketika Ismail beranjak besar, Sarah melahirkan putra lainnya, Ishaq. Dengan kedatangan anaknya sendiri, Sarah merasa tersaingi dengan adanya Hajar dan Ismail. Keberadaan Ismail sendiri tentunya mengancam prospek Ishaq untuk mewarisi posisi ayahnya sebagai pemimpin.
Dengan demikian, diasingkanlah Hajar dan Ismail ke padang pasir. Ibrahim sendiri mengantarkan lalu meninggalkan mereka. Menghadapi situasi demikian, Hajar dengan lantangnya berseru bahwa Allah akan memberikan petunjuk baginya dan putranya.
Tak lama, Ismail pun merasa kehausan. Hajar dengan semangat bertahan hidupnya berlari bolak-balik dari Safa menuju Marwa untuk mencari sumber air bagi anaknya. Tak disangka, ketika ia kembali kepada anaknya, Ismail (dan atau Jibril) mengorek pasir tandus yang kemudian mengalirkan air untuk diminum.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita Hajar adalah penting untuk diingat bahwa Hajar adalah seorang budak kulit hitam yang hanya memegang fungsi reproduksi bagi keluarga Ibrahim. Dalam sistem perbudakan patriarkal, ia tak lebih dari pemuas keinginan Ibrahim dan Sarah akan seorang putra.
Dengan demikian, tak hanya tersiksa secara fisik, Hajar juga mengalami diskriminasi sistemik secara kelas dan ras. Ketika fungsi reproduktifnya telah dianggap selesai, Hajar disingkirkan begitu saja di sebuah tempat yang tidak memungkinkan ia dan anaknya untuk bertahan hidup.
Akan tetapi, Hajar-lah yang menjadi cikal-bakal berkembangnya Kota Mekah. Walaupun namanya tak pernah disebut dalam al-Quran, dapat dipastikan bahwa tidak akan ada Islam seperti sekarang ini, tanpa adanya Hajar.
Bayangkan jika Hajar menyerah dan tidak mempedulikan tangisan kehausan putranya, Ismail. Bayangkan jika ia berserah kepada situasinya dan membiarkan dirinya dan putranya mati kelaparan di tengah gurun pasir. Bayangkan, jika tidak ada Mekah, dan genealogi Nabi Muhammad pun absen adanya.
Dari kekuatan Hajar sebagai seorang perempuan budak kulit hitam, dan sebagai orang tua tunggallah kita mampu merasakan pancaran keberkahan Islam. Dengan demikian, cerita Hajar dalam Idul Adha ini bermakna bahwa Islam sebagai agama tidak dapat dilepaskan dari perjuangan melawan ketidakadilan gender, kelas, dan ras. Genealogi Islam secara jelas berasal dari perjuangan hidup seorang budak perempuan kulit hitam.
Berislam bukanlah jalan yang mudah dan gemerlap. Ia bukanlah jalan yang berada dalam ruang-ruang ber-AC, mall-mall gemerlap, maupun Istana Presiden. Jalan Islam adalah jalan Ibu Hajar. Ia adalah jalan perjuangan seorang budak yang dibiarkan mati bersama anaknya di gurun pasir tak berpenghuni.
Jalan Islam adalah jalan keberanian seorang perempuan kulit hitam yang dengan beraninya berteriak kepada suaminya, bahwa ia dan anaknya akan dipelihara oleh Allah SWT. Bahwa ia tak butuh patriarch, suami, dan keluarga normatif. Ia hanya butuh Tuhannya.
Maka, dalam Idul Adha ini, marilah mengingat bukan hanya prosesi kurban dan Ibrahim sebagai patriarch. Melainkan ingatlah Ibu Hajar dalam berbagai refleksi modernnya.
Ada Ibu Hajar dalam setiap diri perempuan pekerja migran yang berlari menembus batas negara demi anaknya. Ada Ibu Hajar dalam setiap jiwa orang tua tunggal perempuan yang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya tanpa bantuan siapapun.
Ada Hajar dalam setiap langkah perjuangan perempuan-perempuan Indonesia yang melawan pemerintah dan korporat demi melindungi lahan dan hutannya. Dan, ada Hajar dalam setiap jiwa perempuan buruh pabrik yang terus berjuang demi hak-hak mereka sebagai pekerja.
Idul Adha kali ini, berkurbanlah dengan mendukung perjuangan setiap Hajar yang ada di sekitar kita. Karena tanpa Hajar, Islam akan kehilangan ruh keagamaannya.
Tulisan di atas segera mengundang reaksi negatif dari sejumlah aktivis perempuan #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Lewinda Jotari, aktivis dari ITJ Chapter Bandung, mengatakan bahwa tulisan tersebut sejak awal sudah keliru dalam memahami sejarah keluarga Nabi Ibrahim as.
“Peristiwa berlari-larinya Siti Hajar di antara bukit Shafa dan Marwah itu terjadi ketika Nabi Isma’il ‘alaihissalaam masih bayi, sedangkan Nabi Ishaq ‘alaihissalaam lahir masih bertahun-tahun kemudian. Jadi mengapa Sarah harus merasa terancam anaknya yang belum lahir akan terancam oleh Nabi Isma’il ‘alaihissalaam ?” ujarnya.
Anila Gusfani, aktivis ITJ dari Jakarta, mengomentari penggambaran artikel tersebut terhadap Siti Hajar sebagai budak yang tugasnya hanya melahirkan anak. “Secara tidak langsung, penulis sungguh sangat merendahkan harga diri seorang Bunda Hajar,” ungkapnya.
Akmal Sjafril, mantan Koordinator Pusat (Korpus) ITJ, menyatakan keprihatinannya terhadap penulisan artikel tersebut. Menurutnya, di hari-hari sekitar Idul Adha ini, umat Muslim seluruh dunia sedang menunjukkan jati dirinya sebagai pewaris sejati agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.
“Ironisnya, justru pada momen inilah kaum feminis radikal menggambarkan beliau sebagai seorang suami tak bertanggung jawab yang membuang anak-istrinya di padang pasir agar mati. Padahal kita semua tahu bahwa hal itu tidak benar,” pungkasnya.*/ kiriman ITJ