Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Psikologi Barat dan Mainstream Tak Mampu Memahami Aksi 212

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Januari 2017 07:54 7:54 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Januari 2017 07:53
Bagikan
Seminar nasional bertemakan “Aksi Damai 212, Tinjauan Sosiologi, Psikologi, dan Urban Design”di UGM, Sabtu (14/01/2017).
Bagikan

Hidayatullah.com– Presiden International Association of Muslim Psychologist (IAMP) Dr Bagus Riyono, mengatakan teori perilaku massa dalam psikologi lebih sering menjelaskan tentang kekacauan, konflik, kekerasan dan agresivitas. Namun psikologi mainstream tak akan mampu menjelaskan bagaimana perilaku massa dalam Aksi Bela Quran II pada Jumat, 04 Nopember 2016 (Aksi 411) atau Aksi Bela Quran III pada Jumat, 02 Desember 2016 (Aksi 212).

“Jadi psikologi mainstream tak akan mampu menjelaskan bagaimana perilaku massa (jumlah besar) yang sebenarnya sedang sangat tersinggung itu bisa berjalan damai. Kenapa? Karena psikologi Barat/mainstream tak dapat menjelaskan dengan baik, maka ahli psikologi motivasi dan pemerhati masalah HAM ini menawarkan konsep tentang anchors (jangkar pengait),” ujar Ketua Presidium Gerakan Indonesia Beradab (GIB)  dalam Forum Dialog dan Diskusi tentang Aksi Super Damai 212 [ditinjau dari sudut pandangan Sosiologi, Psikologi dan Urban Design] yang berlangsung di University Center Universitas Gadjah Mada, Sabtu, 14 Januari 2017.

Acara yang diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Beradab (GIB), juga menghadirkan menghadirkan Prof. Dr. Musni Umar (Sosiolog), Dr. Bagus Riyono (Psikolog) dan arsitek Wiryono Raharjo, PhD untuk  memotret fenomena Aksi 212.

Apresiasi Aksi 212, Rabbani: Bersatunya Jutaan Muslim Menggetarkan Hati

Dalam pembahasannya, Dr Musni Umar mengatakan bahwa pemicu utama dari Aksi 212 adalah maraknya ketidakadilan hukum dan ekonomi yang kini terjadi di Indonesia.

“Lihat saja bagaimana penggusuran dilakukan dengan semena-mena sedang reklamasi tanpa kejelasan prosedur bisa berjalan sedemikian rupa. Ini hanyalah salah satu contoh dari ketidakadilan hukum itu.”

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Dari sisi ekonomi, maka masyarakat mayoritas Indonesia dinulai bukanlah mereka yang menikmati hasil pembangunan. Sebab pembangunan hanya bisa dirasakan dengan baik oleh 20 persen saja penduduk Indonesia.

“Salah satu temuan dari blusukan saya di Jakarta adalah ketika saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah keluarga harus tidur bergantian, karena ruang hidup dan kamar di rumah mereka tak mencukupi,” ujarnya.

Rektor Universitas Ibnu Chaldun yang pernah keluar masuk penjara di masa Orde Baru karena kritis terhadap pemerintah ini menyatakan dirinya adalah saksi hidup dari perubahan kebijakan pemerintah dan sangat memahami bagaimana kesulitan-kesulitan hidup dirasakan oleh rakyat kecil. Sebagai sosiolog, Ia akrab dengan itu semua.

Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini mengatakan bahwa kesenjangan ini jika tidak diatasi dengan baik maka tinggal menunggu waktu untuk meletus.

Meski demikian, Musni Umar tak melihat bahwa revolusi merupakan opsi yang tepat, karena pergantian rezim tidak selalu memberikan penyelesaian yang lebih baik. “Contohnya reformasi”, tegas Musni.

Banyak hal yang terjadi dalam pengelolaan negara tidak sesuai dengan cita cita dan tujuan dari reformasi tersebut.

“Kini menjadi wakil rakyat harus keluar biaya banyak betul dan mendorong orang untuk memanfaatkan posisinya guna mengembalikan investasi yang telah ia keluarkan.”

Akhirnya sistem yang korup-pun muncul. Selain itu, ketidakadilan hukum dan ekonomi masih tetap saja terjadi, bahkan makin menguat.

“Rezim sekarang bekerja tidak berdasar perencanaan bangsa untuk jangka panjang. Sepanjang bisa mendapatkan kesan baik melalui media dan media sosial seolah-olah tugasnya telah berjalan baik,” kritiknya.

Dari sini yang terjadi kemudian mempermainkan opini melalui media. Salah satu langkahnya adalah dengan mengandalkan buzzers untuk memenangkan opini itu. Salah atau betul kebijakannya, itu bukan menjadi soal terpenting.

Jakarta Kota Lelah

Sementara itu, pakar arsitektur Wiryono Raharjo, PhD membahas Aksi 411 dan Aksi 212 dari sudut pandang urban design. Ia   menyampaikan pengamatannya terhadap penataan kota bagi kaum miskin/dhuafa.

Arsitek dan dosen Universitas Islam Indonesia (UII) yang akrab dipanggil Pak Wing ini menggarisbawahi bahwa keberadaan simbol bagi sebuah kota itu menjadi amat penting. Apa yang akan menjadi ciri yang khas bagi Jakarta, telah dipikirkan oleh Soekarno cukup baik. Ia menginginkan agar Jakarta tidak kalah dengan kota-kota lain di dunia.

Ketua MPR RI Puji Aksi 212 sebagai Teladan Persatuan Umat Islam

Maka Aksi 212 dengan latar belakang Tugu Monas telah memperkuat aksi damai tersebut. Sambil melakukan simulasi Wing mengatakan, “Coba kita lihat, bagaimana jika di antara massa yang berkumpul itu, Monas kita hilangkan,” yang disambut senyum peserta seminar.

Jadi kombinasi Monas, Bundaran HI menurutnya menjadikan aksi tersebut lebih berkesan.

Dari sisi pembangunan fisik bagi masyarakat dhuafa, pengkaji Pro Poor Architecture ini mengatakan perlunya ada keberpihakan.

Ia menyinggung Agung Podomoro yang membangun gedung apartemen bertingkat tingkat, banyak yang di dalamnya kosong karena hanya untuk investasi bukan untuk keprluan dihuni.  Di sisi lain justru banyak masyarakat miskin tidak mampu untuk memiliki tempat berteduh yang layak.

Wiryono dan Musni sepakat bahwa merelokasi ke rusun itu hanya akan mengulangi kegagalan. Itu seperti pintu memiskinkan karena tidak dibarengi dengan memandirikan secara ekonomi. Orang akan kembali lagi ke daerah gusuran, karena di situlah mata pencaharian mereka berasal. Hal yang sama telah terjadi dengan rusun Tanah Abang di tahun 80-90-an.

Tapi mengapa kegagalan akan diulang kembali?

Atas dasar apa reklamasi dan relokasi ini sebenarnya dilakukan?

Wiryono setuju adanya upaya pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan. Sebab Jakarta adalah kota yang lelah. Harus dimunculkan kesadaran masyarakat untuk membenahi kota bersama-sama.

Acara yang dimoderatori oleh Wien Noto Gayo, (aktivis Pelajar Islam Indonesia -Jakarta) ini memberikan insight baru bagi peserta tentang kehidupan bersama, perlunya meminimalkan kesenjangan dan ketidakadilan.*/kiriman Emi Zulaifah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aksi Damai 212Bagus Riyonodalam psikologi lebih sering menjelaskan tentang kekacauanGerakan Indonesia BeradabGIBInternational Association of Muslim Psychologistkonflikpsikilogi MainstreamPsikologi Baratteori perilaku massa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Soal Fatwa MUI, Amien Rais Anjurkan Kapolri Berpikir sebelum Bicara
Tulisan selanjutnya Flotilla untuk Rohingya Dapat Lampu Hijau Bangladesh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?