Hidayatullah.com–Direktur At-Taubah Institute, Nashrudin Syarif menjelaskan sebab orientalis dari Barat sering mengkaji budaya timur terutama Islam karena ketidakridhoan mereka terhadapnya. Hal tersebut ia sampaikan pada perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung pada Kamis (18/03/21) lalu dengan tema bertajuk “Konsep Wahyu dan Kenabian.”
“Orientalis ingin kita seperti mereka dan ini sudah disinggung oleh Allah dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 120. Orang-orang Barat menguliti Islam dan mereka mayoritas Yahudi dan Kristen. Mereka itu tidak akan ridho kepada kita umat Islam, sampai kita mengikuti mereka, mengikuti millah mereka,” paparnya.
Oleh sebabnya, Direktur Tsaqifa Publishing itu menjelaskan pengkajian budaya timur itu didorong oleh millah mereka dan berkaitan dengan jiwa imperialisme yang tertanam pada diri kaum orientalis tersebut. “Millah itu agama, keyakinan, millah itu worldview, paradigma, filsafat mereka. Mengapa mereka ingin kita mengikuti mereka, karena jiwa kolonialisme, jiwa imperialisme yang tertanam dalam hati mereka dan itu sampai dimasukkan dalam ranah ilmu,” imbuh Nashruddin.
Ranah ilmu yang dimaksud adalah orientalisme yang sangat berkembang di Barat hingga dibiayai oleh negara-negara imperialis untuk mendapatkan data tentang Islam. “Orientalisme adalah disiplin ilmu yang ada di Barat. Bisa berupa pusat studi, jurusan, kejuruan khusus ilmu-ilmu tentang Timur. Tentu yang dimaksudkan dalam orientalisme itu 90% tentang Islam dan sasaran utama Orientalisme itu adalah Islam. Jadi pengkajian tentang Timur itu dibiayai oleh negara kolonial. Inggris, Prancis, Amerika. Mereka membiayai penelitian itu, karena mereka membutuhkan data. Data itu harus dikumpulkan melalui para peneliti, maka negara-negara itu butuh data negara-negara Islam. Data yang dihasilkan oleh orientalis tersebut dijadikan masukan untuk negara imperialis,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nashrudin mengemukakan bagaimana contoh kasus yang terjadi di Indonesia oleh Snouck Hurgronje. “Dan itu contoh sederhananya adalah Snouck Hurgronje di Indonesia, faktanya adalah Snouck belajar di Makkah kemudian di Aceh dan hasil penelitiannya untuk Belanda. Belanda memanfaatkan penelitian Hurgronje, buku-bukunya banyak ditulis di Nederlands Islamic Studies dibiayai Kementerian Luar Negeri Belanda untuk studi Islam dengan tujuan menancapkan imperialisme di Indonesia,” tuturnya.
Rifki Azkia seorang peserta kuliah juga memberikan komentarnya mengenai bahaya orientalisme yang dilakukan oleh Barat. ”Tentunya studi orientalisme di Barat itu keliru, soalnya mereka mengabaikan nash-nash qathi’yyah. Al-Attas berkata itu identik dengan materialisme dan rasionalisme sehingga jika diterapkan pada Islam tidak relevan. Hirarki sumber ilmu dalam filsafat ilmu Islam itu wahyu yang nomor satu bukan rasio. Mengingat bahayanya studi Barat terhadap agama Islam, tentunya hal ini perlu disosialisasikan kepada umat Muslim secara keseluruhan,” pungkas Rifki.*/ Aditya Muhammad Reza