Hidayatullah.com–Hari Ahad (11/05/2014) kemarin, bertempat di ruang sidang III Gelanggang Universitas Gajah Mada (UGM) dilaksanakan Talk Show yang bertema “Mengenal Lebih Jauh Feminisme”.
Acara yang dilaksanakan oleh departemen Kajian Strategis, Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Shalahuddin UGM Yogyakarta ini berlangsung dari pukul 09.00 WIB- hingga menjelang dzuhur.
Diskusi mengahadirkan tiga pembicara dengan sub tema yang berbeda; Habibah Nurul Umah (dosen bahasa Arab di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Senny Helmiati (dosen Fakultas Pertanian UGM), dan Sarah Larasati Mantovani (Peneliti The Center for Gender Studies).
Dalam acara ini dibahas tentang fenomena feminisme yang telah mewabah ke ranah kehidupan.
Para peserta yang khusus untuk muslimah ini, sangat antusias untuk mengetahui seluk beluk wajah feminisme melalui pertanyaan yang dilontarkan kepada masing-masing pembicara.
“Islam telah menyediakan identitas terbaik bagi perempuan yaitu sebagai seorang Muslimah, dan perempuan yang berakhlak mulia akan mendulang terciptanya kehidupan masyarakat yang baik pula,” ungkap Senny.
Sebagai Muslimah sejati mesti memahami akan jati dirinya agar tidak hanya sekedar membebek begitu saja tanpa ilmu, ujarnya.
Sementara Habibah Nurul Ummah yang pernah studi di Al-Azhar Kairo, menyampaikan bahwa tantangan ke depannya akan lebih hebat dari apa yang dijalani hari ini. Menurutnya, saat ini banyak istilah yang telah disuguhkan dan telah merambah ke ranah ideologi seperti gender, feminis, emansipasi dll.
Ia menasehatkan untuk mempelajari substansi persoalannya sebelum mengenal isu global dan merambat ke Indonesia.
“Jika hendak melakukan studi komparatif antara laki-laki dan perempuan maka harus mengenal terlebih dahulu hak dan kewajiban diantara keduanya, agar melakukan hal yang senantiasa berlandaskan dengan ilmu pengetahuan. Pikiran dan perasaan harus sama-sama diislamkan supaya tidak terjadi ketimpangan,” lanjutnya.
Yuda salah satu peserta mengungkapkan keprihatinannya akan paham feminisme yang telah menyusup ke lingkungan anak sekolah.
Sementara Sarah Mantovani yang kini sedang menyelesaikan studinya Magister Pemikiran Islam di UMS, memberikan solusi penanggulangan baha feminisme.
Pertama, banyak mengadakan kajian, diskusi, ToT, Workshop, Kedua, mengusulkan adanya UU Keluarga Sakinah , Ketiga, mengajukan Uji Materi UU No. 7 tahun 1984 tentang Ratifikasi CEDAW, keempat, membuat kelompok pendamping untuk kasus KDRT, kelima, mendirikan ‘Rumah Penyembuhan’ untuk pengidap lesbian, gay (homo), biseksual dan transgender LGBT dan membedakan antara ajaran Islam dengan budaya atau adat yang dibuat orang Islam.
“Materi hari ini masih sangat sedikit dan butuh tindak lanjut ke depannya, namun apa yang didapatkan semoga sangat bermanfaat dan diamalkan,” ujar Fira di akhir acara yang bertindak selaku moderator.*/kiriman Sahlah al Ghumaishaa (Surakarta)