Hidayatullah.com- Beberapa daerah di ketinggian Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan saat ini memang masih sulit dijangkau dengan kendaraan biasa. Harus dengan motor trail dan sejenisnya.
Sementara itu, sentuhan dakwah amat sangat dibutuhkan masyarakat di sana.
Salah satu daerah itu adalah Desa Bontosomba. Masyarakat di desa ini mengeluhkan tidak adanya khatib, sehingga seringkali shalat Jumat tidak bisa dilaksanakan.
Menurut Suparman, Kepala Desa Bontosomba, Kebutuhan dai di daerahnya ini adalah sesuatu yang urgent. Karena di samping shalat Jumat yang kerap gagal terlaksana karena tidak ada dai atau khotib, masyarakatnya juga memang masih sangat awam dengan agamanya.
“Beberapa tahun silam, sebagian besar warga di sini bahkan sempat nyaris berpindah agama. Dan sampai sekarang masih sangat rawan, butuh dikuatkan,” ungkap Suparman.
Merespons kondisi tersebut, Laznas Baitul Maal Hidayatullah bekerja sama dengan Tim Dakwah dan Layanan Ummat Hidayatullah di Pesantren Tahfidz Ummul Quro, Pucak untuk menjadikan desa Bontosomba sebagai Desa Binaan.
Dai-dai Hidayatullah secara bergantian akan bertugas sebagai khatib dan mengajar ngaji ke Desa Bontosomba ini.
“Tugas para dai ini adalah memastikan shalat Jumat di kawasan Tompobulu, khususnya Desa Bontosomba tidak lagi libur, dan bisa terus terlaksana dengan baik. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah menyediakan ruang belajar Al-Qur’an untuk warga.”
Pesan ini disampaikan oleh Ustadz Aziz Qahhar Mudzakkar saat menyerahkan amanah Motor Da’i dari Laznas BMH kepada Tim Dai yang siap bertugas, Rabu (03/11/2021), di Tompobulu.
Baca: “Mushaf yang Sudah Sobek itu Membantu Saya Menghafalkan 10 Juz Al-Qur’an”
“Selama ini, salah satu kendala bagi dai sehingga tidak bisa intens berkunjung ke lokasi adalah karena tidak adanya kendaraan yang mendukung. Sebab hanya kendaraan dengan spesifikasi tertentu yang bisa menembus lokasi. Adanya motor dai dari BMH ini tentu perlu kita syukuri,” imbuh Pembina Pesantren Hidayatullah Makassar ini.
Motor Dai yang diserahkan hari itu adalah titipan amanah sepeda motor dari salah satu donatur BMH. Sepeda motor ini bukan barang baru, tapi sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa beradaptasi dengan medan dakwah di daerah ketinggian Tompobulu ini, ungkap Kadir, Ketua Perwakilan BMH Sulsel.
Gerakan dakwah ini perlu terus dikuatkan dengan kolaborasi. “Karena masih sangat banyak saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah, khususnya mereka yang berada di desa-desa pelosok. Dan salah satu bentuk dukungan itu bisa dengan menyiapkan sarana motor dakwah untuk dai-dai di sana. Tidak harus motor baru, motor bekas yang sudah jarang terpakai, bisa dimaksimalkan manfaatnya untuk itu,” pungkas Kadir di sela acara.* (Syamsuddin)