Hidayatullah.com—Seorang muslim perlu memahami konsep dasar wahyu. Konsep wahyu dan kenabian bagi seorang muslim sangat penting untuk meneguhkan iman, di sisi lain, seringkali kelompok liberal, mu’tazilah dan orientalis membuat jebakan pemahaman, sehingga akan mengganggu kesempurnaan akidah.
“Wahyu tidak bisa dipisahkan antara subjek dan objeknya, ada pesan, ada penerima pesan, ada penyampai pesan, ada yang berpesan, dan ada sebab atau sejarah kenapa pesan tersebut disampaikan. Itu semua harus dipahamai secara utuh karena saling berkaitan erat untuk mendapatkan pemahaman dan makna wahyu yang sebenarnya,” terang Dosen di Institute Daarul Qur’an, Muhammad Fadhila Azka, M.Ag dalam perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ketujuh membahas “Konsep Wahyu dan Kenabian”.
Menrut alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, hal utama yang menjadi dasar dari konsep wahyu adalah keyakinan terhadap Al-Qur’an yang bukanlah produk pikiran, khayalan, creative imagination, ciptaan atau tulisan Muhammad. Hal ini harus dipahami setiap muslim agar paham bahwa wahyu sebagai kalam Allah.
“Al-Qur’an merupakan qira’ah dan tidak bisa diposisikan sebagai teks. Ia juga bukan manuskrip, melainkan bacaan yang dihafal sehingga ia bebas dari kritik sejarah, kritik sumber dan kritik teks,” terang Azka dalam perkuliahan yang diselenggarakan di Aula Imam al-Ghazali, gedung Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS).
Puluhan peserta yang hadir malam itu terlihat menyimak dengan antusias selama mengikuti jalannya perkuliahan. Athfallia, salah satu peserta pun turut memberikan respon emosionalnya setelah menyimak materi Konsep Wahyu dan Kenabian.
Ia menuturkan bahwa materi yang dibahas malam ini sangat berkesinambungan dengan worldview of Islam, konsep diin, tauhidullah, dan berbagai materi-materi perkuliahan sebelumnya.
Wanita berusia 23 tahun ini mengatakan bahwa dirinya jadi semakin meyakini bahwa Kalam itu memang satu-satunya kitab suci yang bersumber dari wahyu Allah, tidak dari perkataan manusia, apalagi penyebutannya sampai teks dan manuskrip. Ia juga menyinggung banyaknya pengaruh para orientalis terhadap Islam saat ini, khususnya mencoba mengkritisi Al-Quran.
“Jadi bisa lebih hati-hati juga, karena banyaknya fenomena di pendidikan tingkat atas yang mencoba mengkritisi Al-Quran, padahal sudah jelas bahwa Al-Quran adalah wahyu yang tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya,” pungkas wanita asal Tangerang ini.*/Mayang