Hidayatullah.com—Setelah berbagai umat beragama dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, melakukan “aktivitas”nya di Capitol Hill –gedung DPR AS—di Washington D.C, giliran umat Islam di Amerika Serikat melakukan kegiatan keagamaan di gedung itu. Kegiatan berlangsung pada Jumat (25/9) pukul 13.00 waktu setempat, berupa kegiatan shalat Jumat. Sekitar 50.000 orang datang ke sana. Menurut penyelenggara, non-Muslim diperbolehkan ikut serta.Acara tersebut diselenggarakan oleh Masjid Darul Islam Elizabeth New Jersey, didukung oleh beberapa masjid lainnya.Capitol Hill atau lengkapnya Capitol Hill History District merupakan salah satu distrik di Washington D.C. Nama itu diambil dari gedung US Capitol yang dibangun di puncak bukit dengan menghadap ke arah kota. Di samping gedung Capitol, terdapat bangunan penting lainnya, seperti gedung Senat, Mahkamah Agung, perpustakaan Kongres dan National Mall.Karena latar belakangnya yang penuh jejak sejarah dan selalu menjadi pusat perhatian, maka tempat itu sering digunakan orang dari berbagai macam kalangan untuk berkumpul dengan tujuan yang beragam pula, termasuk melakukan protes, demonstrasi, pawai, acara-acara politik, acara amal, festival, dan sebagainya.Peristiwa bersejarah terjadi pada tahun 1952 ketika kaum Protestan konservatif sukses melaksanakan ambisinya masuk ke Capitol Hill. Tokoh di balik kesuksesan itu adalah Billy Graham, yang pada tahun itu memiliki program lima minggu berupa pelayanan doa dan pengajaran di Washington DC (lihat tulisan Cover Story: Upaya Mendekatkan Ruang Agama dan Negara).Dianggap bersejarah, karena dalam Konstitusi AS terdapat pemisahan antara gereja dan negara. Mestinya kegiatan keagamaan tidak dapat dilakukan di gedung pemerintahan. Nyatanya, berkat upaya gigih Graham, berhasil mengatasi halangan tersebut selangkah demi selangkah.Selanjutnya kegiatan keagamaan tak tabu lagi masuk ke Capitol Hill. Terlebih kegiatan yang bersifat non-keagamaan. Pada tahun 1963 Martin Luther King Jr. pernah menyampaikan pidato bersejarahnya “I have a dream” di sana.Protes terhadap perang Vietnam dan perang Irak dilangsungkan di National Mall. Pawai Million Man March dan Million Mom March juga dilakukan di Capitol Hill. Acara tahunan Susan G. Komen Global Race for the Cure dimulai dan berakhir di National Mall.Agustus 2008, sebuah Pelayanan Doa Kristen menyelenggarakan acara guna menyeru umat Kristiani berkumpul di Mall untuk menangis, memohon sambil puasa, dan berdoa agar mimpi Tuhan untuk negara AS segera dipenuhi. Tahun 2000 di National Mall juga diadakan doa awal tahun baru.Kaum atheis pun tidak ketinggalan memanfaatkan Capitol Hill. Pada tanggal 2 Nopember 2002 mereka melakukan pawai “Godless Americans March on Washington.” Tujuannya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa berbagai komunitas atheis, freethinker (pemikir bebas), humanis sekular, dan komunitas orang Amerika tak beragama lainnya, adalah bebas dan mereka bangga dengan sikap dan gerakan mereka.Indahnya keanekaragamanMenurut situs yang dibuat khusus untuk acara shalat Jumat di gedung Capitol Hill, islamoncapitol.com, tujuan diadakannya shalat Jumat di situ untuk mengundang komunitas Muslim dan teman-teman Islam mengekspresikan dan mengilustrasikan indahnya keanekaragaman dalam Islam. Mewujudkan prinsip ajaran Islam yang agung, sebagaimana yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Di samping itu untuk mengilhami generasi muda Islam agar bekerja lebih giat untuk kebaikan semua orang dan berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang ras, agama atau bangsa.Ketua jemaah Darul Islam, Hassen Abdellah, mengatakan, kegiatan ini tidak melibatkan ceramah yang bersifat politik.Izin telah diperoleh dari Kepolisian Capitol Hill sejak 28 Juli lalu. “Kami juga warga Amerika. Kami perlu mengubah wajah Islam yang selama ini diidentikkan sebagian orang yang menganggap Amerika sebagai setan. Sebab, kami mencintai Amerika,” papar Abdellah.Di antara mereka yang berpartisipasi adalah komunitas Islam Jersey Tengah, di Brunswick Selatan. Mereka mengirimkan jemaahnya dalam sebuah bus.”Acara ini tidak menampilkan ketokohan. Sehingga, kami tidak ingin ada tokoh yang terlibat. Tokoh utama dalam acara ini adalah Nabi Muhammad SAW,” papar Abdellah.Sayangnya pada saat acara ini berlangsung, justru mendapat keberatan dari kalangan Kristen. Menurut sebagian orang Kristen, acara itu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai kristiani.Dalam sebuah pernyataan, pendeta Canon Julian Dobbs, pemimpin Convocation of Anglicans in North America’s Church and Islam Project, menyebut acara itu merupakan “bagian dari strategi yang diatur dengan baik untuk mengislamkan masyarakat Amerika dan mengganti Bibel dengan Al-Quran, salib dengan bulan sabit, dan lonceng gereja dengan adzan.”Sementara itu ada pernyataan yang lebih lunak, tapi sinis dan sama maknanya dari Lou Engle, seorang penginjil. Ia mengatakan bahwa acara Jumat itu “lebih dari sekadar acara kumpul-kumpul Muslim yang menyenangkan. Acara itu merupakan permohonan doa untuk kekuatan spiritual dan ideologi.” Hal ini, menurutnya, “tidak sama dengan serangkaian nilai yang dimiliki oleh bangsa kita (Amerika).”Ketika acara digelar, ada umat Kristen yang “berdakwah” melalui kaos. Dengan mengenakan kaos bertuliskan “Jesus is the standard”, mereka menunjukkannya maksud mereka kepada Muslim yang berlalu-lalang di sana. Sebagian lainnya ada yang menghina ajaran Islam dengan berteriak dengan pengeras suara. Dan di dekat Sam Rayburn House Office, kelompok yang bernama “Stop Islamization of America” mengadakan panel diskusi yang mengkritik acara shalat Jumat itu.”Mereka bilang itu merupakan acara doa, tapi itu merupakan tindakan politik,” kata Daniel L. Adams, pemimpin kelompok SIOA. “Orang punya tempat sendiri untuk beribadah. Namanya masjid, sinagog atau gereja. Tapi jika Anda datang ke US Capitol, kegiatan itu menjadi politis, karena itu merupakan sebuah demonstrasi.”Ketika Muslim laki-laki dan perempuan sedang melaksanakan shalat dan mendengarkan ceramah, orang-orang Kristen berteriak-teriak mengatakan, “Tobat!”Sementara di bagian lain, di seberang jalan tempat acara berlangsung, orang-orang Kristen yang berunjuk rasa berkumpul sambil membawa spanduk, salib, dan pesan anti-Islam. Sekelompok orang lain yang dipimpin pendeta Flip Benham dari kota Concord North Carolina, berdiri di samping salib kayu setinggi 10 kaki dan dua papan kayu yang bertuliskan “10 Perintah Tuhan.””Saya menyarankan Anda untuk memeluk agama Kristen!” teriak Benham melalui pengeras suara. “Islam memaksakan dogmanya ke dalam tenggorokanmu,” tambahnya.Suara anti-Islam ternyata tidak hanya pendeta. Setelah acara shalat Jumat itu, seorang calon anggota Kongres AS dari San Angelo, menginginkan agar Amerika tidak lagi menerima imigran Muslim.Tapi Canyon Clowdus, calon anggota Kongres itu, rupanya tidak berhenti di situ saja. Seperti yang ia sampaikan dalam blog Dr. Bulldog and Ronin yang mendukungnya untuk duduk di Kongres mewakili distriknya, “Bukan mereka (Muslim) saja,” kata politikus Partai Republik yang konservatif itu. “Pemerintah perlu memeriksa semua imigran. (Karena) mereka biasanya berasimilasi.”Para imigran mempertahankan kepercayaan mereka, menyakiti Amerika. Demikian kata Clowdus yang merupakan pengusaha dari Marble Falls.Clowdus ingin mencegah imigran Muslim masuk guna menghentikan apa yang disebutnya sebagai “jihad tersembunyi” dan “penyusupan syariah”, yang akan menggantikan Konstitusi AS dengan hukum Islam.Namun seorang pendukung hak-hak sipil agaknya sangat kecewa setelah membaca pernyataan dari seorang calon anggota Kongres yang seperti itu. Bukannya menggunakan kredibilitas untuk menyatukan Amerika, malah menggunakannya untuk memecah belah AS.Eric Ward dari Center for New Community, sebuah organisasi di Chicago yang merengkuh Kristen, Yahudi dan Muslim, mengatakan bahwa blog tersebut mengusung sebuah pemahaman yang salah tentang pertentangan peradaban Kristen dan Islam.”Yang sebenarnya terjadi adalah pertentangan hanya antara elemen ekstremis dari Kristen dan Islam,” kata Ward.Politikus Mike Conaway dan Chris Younts sedikit banyak sependapat dengan Clowdus.”Anggota Kongres Conaway merupakan pendukung reformasi imigrasi,” kata Richard Hudson yang menjadi juru bicara Conaway. “Tapi ia tidak mempunyai rencana kebijakan imigrasi yang berdasarkan pada agama.”Sedangkan Younts, seorang pebisnis asal San Angelo menentang imigrasi ilegal. Tapi, “siapapun warga negara asing yang terikat hukum harus diperbolehkan untuk berimigrasi ke AS, selama mereka mematuhi kebijakan imigrasi dan menghormati Konstitusi kami,” kata Younts melalui juru bicaranya, Ken Burton.Tampak memang masih banyak terdapat kesalahpahaman dalam memandang Islam, bahkan kesalahpahaman itu pun menimbulkan kebencian. Itu bisa saja terjadi di negara semacam Amerika Serikat yang menganut sistem demokrasi dan liberal. Hal ini dapat dipahami karena cukup banyak umat Kristen beraliran keras (fundamentalis) di AS, terutama di negara-negara bagian wilayah Bible Belt dan Sun Belt. [si/di/shns/hidayatullah.com]