Hidayatullah.com– Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menuturkan bahwa kursi yang tidak terserap pada musim haji tahun 1440H/2019M ini lebih sedikit dibandingkan sebelumnya yang mencapai 600 sampai 900 orang.
Diketahui, seluruh jamaah haji Indonesia saat ini sudah berada di Tanah Suci. Namun, dari total kuota 231 ribu yang diberikan Arab Saudi pada tahun ini, sebanyak 520 kursi haji reguler dan 159 haji khusus tak terserap.
Menurut Menag, jika dihitung dari total 214 ribu kuota haji reguler, angka 520 tidak signifikan.
“Itu hanya 0,24 persen saja. Jadi ya deviasinya sebenarnya masih dalam batas toleransi karena ini sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan,” jelas Menag di Makkah, Arab Saudi, baru-baru ini lansir Media Center Haji, Jumat (09/08/2019).
Menag menjelaskan bahwa kursi yang tidak terpakai diakibatkan berbagai faktor. Misalnya, jamaah meninggal dunia, sakit, membatalkan diri karena tidak siap, atau alasan urusan kantor.
Itulah mengapa setiap tahun pemerintah menyediakan cadangan sebesar 5 persen. Hal ini dalam rangka mengantisipasi kalau ada jamaah haji yang tidak jadi berangkat.
Khusus pada tahun ini, Indonesia kembali mendapatkan kuota tambahan sebesar 10 ribu. Kuota tersebut masing-masing diberikan kepada jamaah haji lanjut usia sebanyak 5.000 dan pendampingnya 5.000 kursi.
Kuota itu pun diberikan kepada jamaah cadangan, dengan syarat pelunasan.
“Nah, ketika menjelang akhir, ternyata di antara cadangan yang sudah membayar lunas dan sudah menyerahkan paspor itu membatalkan diri,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat adanya sisa kursi haji yang tidak terpakai. Menag menilai hal itu sulit terhindarkan pada penyelenggaraan haji dari tahun ke tahun.
“Faktornya ada yang wafat, ada yang sakit, ada yang karena urusan kantor dan macam-macam lalu tidak bisa. Juga karena waktunya terlalu pendek. Sudah melunasi tapi merasa belum siap berangkat tahun ini,” pungkasnya.*