Hidayatullah.com– Salah seorang pemilik biro travel umrah, Muhammad Rizaldy Latief, mengatakan, meskipun berdampak terhadap ekonomi, kebijakan pemerintah Arab Saudi menutup sementara Ka’bah sejatinya bagus.
Sebab, katanya, mengurangi bahaya dari pandemi virus corona jenis baru (Covid-19) yang memang luar biasa.
“Banyak orang menyampaikan, ini adalah virus yang mudah hilang, sederhana, dan lain sebagainya. Mungkin juga virusnya mudah mati, tetapi penyebarannya juga tidak kalah mengerikan,” jelas Presiden Direktur PT Jejak Imani Berkah Bersama ini ketika dihubungi hidayatullah.com, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pemerintah Arab Saudi sudah melakukan antisipasi preventif yang bagus.
Jadi, kenapa Arab Saudi menutup Ka’bah? Kalau tetap dibuka untuk ibadah umrah, kata Rizaldy, berpotensi menyebarkan pandemi coronavirus kepada jutaan orang yang ingin thawaf atau berjubel masuk ke Raudhah.
“Karena penyebaran pandemi ini luar biasa, maka potensi jamaah tertular corona dan menyebar di Ka’bah sangat tinggi. Jadi, saya bisa memahami dan menyetujui apa yang dilakukan Saudi untuk mengisolasi negaranya dari jamaah umrah,” jelas Rizaldy.
Baca: Petugas Haji Indonesia di Riyadh: Belum Ada Info Pembatalan
Ia mengatakan, bayangkan kalau 1 juta orang ada di Masjidil Haram, lalu terpapar Covid-19, maka banyak sekali yang akan terkena dan terdampak. Efeknya akan masif dan ini yang memang diantisipasi oleh pemerintah Arab Saudi. Mereka bergerak cepat untuk melindungi warganya dan jamaah umrah dari negara lainnya.
Tapi di satu sisi, sebagai pemilik salah satu travel umrah dan Islamic Tour, Rizaldy juga mengalami kerugian.
“Kalau kerugian, sebenarnya ada dampaknya pada beban operasional. Karena kita harus mengeluarkan sekian untuk biaya operasional selama sebulan. Itu yang kita anggap rugi. Beban operasional harus terus berjalan sedang jamaah menahan diri untuk mendaftar umrah.
Dari Saudi juga belum ada kabar kepastian kapan Ka’bah dibuka. Apalagi di Indonesia kini kondisi pandemi terus meningkat,” jelasnya.
Terkait dengan kerugian, Rizaldy mengungkapkan, kerugian untuk operasional lumayan besar. Karena PT Jejak Imani sudah banyak memberangkatkan jamaah, sehingga membutuhkan cost operasional yang tidak sedikit.
Bahkan, sejak ditutupnya Ka’bah pada 27 Februai 2020, ada sekitar 600 jamaah PT Jejak Imani yang kena resechedule.
“Ada sekitar seribuan yang masih menantikan (dibukanya kembali Ka’bah untuk umrah), tetapi total ada 600 jamaah yang sudah bayar dan siap berangkat, belum jadi karena Ka’bah sementara ditutup.”
Baca: Saudi Surati Menag RI Bukan Minta Tunda Persiapan Haji
Rizaldy meminta pemerintah mencari cara yang sesuai dengan saran dari tenaga kesehatan atau petugas medis, bagaimana caranya pandemi Covid-19 segera berakhir. Karena tanpa itu (pandemi usai), Saudi enggak akan membuka pintunya untuk Indonesia.
“Tinggal menunggu saja kapan pandemi selesai dan Ka’bah akan dibuka kembali. Memang ada informasi akan dibuka bulan Sya’ban. Tetapi kita masih belum tahu.
Yang jadi harapan kita, ketika Ka’bah dibuka, pandemi ini juga sudah berakhir di Indonesia. Karena kalau nggak, pelaksanaan umrah terutama dari Indonesia nggak jalan juga, sebab, Indonesia tetap tak boleh masuk ke Saudi jika masih membawa pandemi coronavirus,” tutupnya.*