Hidayatullah.com–“Adalah suatu aturan yang sangat tak wajar. Mereka ingin menyetop orang-orang yang mempraktekkan hak beragama dan kebenaran mereka?,? sekali lagi tindakan mereka tidaklah merugikan sesiapapun,” Zanisa Khan seperti dikutip The Jamaica Observer.
“Haruslah diberi kebebasan para muslimah untuk mempraktekkan keyakinan mereka. Kita menutup diri kita menurut perintah Allah dan itu harus dihormati,” lanjutnya.
“Apa yang mereka lakukan di Perancis adalah melawan terhadap hukum Tuhan. Kita telah memakai hijab hampir beratus-ratus tahun. Bukan sesuatu dipaksakan oleh para suami kami. Kita melakukan itu sebab itu merupakan suatu perintah dari Allah,” tambah Salina.
“Kita tidak mendukung mereka yang berusaha untuk mengutuk hijab. Tak seorangpun perlu mencegah kami untuk memakai itu. Kita perlu memprotes ini sebanyak mungkin. Kita tidak akan memufakati itu. Kita akan memprotes itu,” dukung Salina, muslimah yang mengaku telah memeluk hampir 19 tahun.
Isu pelarangan jilbab di Perancir ini setidaknya telah memunculkan reaksi massal di beberapa belahan dunia termasuk Jamaika.
Awal bulan Ini, Presiden Perancis melalui suatu komisiuntuk mengutuk pemakaian hijab (jilbab) di sekolah-sekolah negeri, sebagai bagian dari keputusan untuk memelihara budaya identitas sekuler di negeri itu.
Hampir 15 tahun, Perancis telah memperdebatkan isu tentang boleh dan tidaknya memakai simbol-silbom keagamaan di sekolah negeri. Dua tahun lalu bahwa sempat mengusir beberapa siswa sekolah yang kedapatan tidak mau melepaskan jilbab mereka.
Salina Khan dan Zanisa Khan adalah sebagaian dari sekitar 1.024 para muslimah yang tinggal di Jamaika yang kini bersimpati pada penindasan hal saudara-saudara mereka seiman di Perancis.
“Orang-orang di sini bersikap toleran. Ketika aku meneruskan langkahku mereka sangat menghormati aku dan aku sangat menghormati mereka,” ujar Zanisa, muslimah kelahiran Trinidad yang tengah tinggal di Jamaika telah empat tahun ini.
Sheila Abdullah setuju dengan Zanisa melakukan tekanan ke seluruh dunia terhadap diskriminasi terhadap hak beragama.
“Ada upaya perang melawan Islam. Bukan pertama kali mereka mencoba untuk membatasi hak kami. Mereka melakukan itu di Turki dan mereka melakukan itu seluruh penjuru dunia,” tambahnya. “Mereka melakukannya dengan kalangan Kristen dan mereka sukses?. tambahnya lagi. (jo)