Hidayatullah.com–Dalam babak penentuan peserta Piala Dunia 2010 yang digelar di Rwanda pada Sabtu (5/9), tim bola Mesir berhasil menekuk tim bola negeri Rwanda dengan skor 1-0. Prestasi ini berhasil ditatah tim “Fara’inah” itu justru ketika para pemainnya sedang melakukan ibadah shaum.
“Saya yakin, kemenangan ini adalah hadiah agung yang diberikan Allah kepada tim Mesir karena ketaatan kami untuk tetap menjalankan ibadah puasa di sela-sela pertandingan yang menentukan ini,” terang Ahmad Hasan, penyerang maut dari Mesir.
Sebelumnya, Dewan Fatwa (Darul Ifta) Mesir merilis fatwa yang membolehkan tidak berpuasa bagi para pemain Mesir yang akan turun lapangan berlaga di babak penentuan (tashfiyyah) peserta Piala Dunia ini, yang kebetulan jatuh pada siang hari di bulan Ramadhan.
Fatwa yang langsung diputuskan oleh Mufti Besar Mesir Syaikh Ali Gum’ah itu pun tak pelak menuai kontroversi di dalam negeri Mesir dan di negara-negara Muslim lainnya. Ada pihak yang mendukung fatwa tersebut, dan banyak pula yang menolak dan mengecamnya.
Terkait fatwa tersebut, pada akhirnya pemain Mesir lebih memutuskan tetap menjalankan puasa meski pun siang hari Sabtu kemarin mereka turun lapangan untuk bertanding dengan Rwanda.
Dan, hasilnya, tim asuhan Hasan Shahata itu menang dan dapat dipastikan lolos sebagai peserta Piala Dunia 2010 nanti. Kemenangan ini tentu saja membelalakan banyak pihak.
Pasalnya, beberapa hari menjelang pertandingan, berbagai media di Timur Tengah, termasuk Israel, pada rubrik olah raganya menurunkan analisa tentang apakah tim Mesir akan berpuasa di hari pertandingan atau tidak? Banyak media yang beranggapan, jika demi kemenangan dan kesempatan menjadi peserta piala dunia itu, tim Mesir akan rela merujuk fatwa yang membolehkan mereka tak berpuasa, demi memaksimalkan stamina.
Surat kabar Haatrez terbitan Israel, di hari H pertandingan menurunkan tulisan dengan judul sedikit “menyindir”. Dikatakannya, “apakah Abou Treika, streiker andalan Mesir itu, yang biasa mengamparkan sajadah dan bersujud ketika mencetak gol dan dinilai sebagai tipikal pemain relijius, juga akan berpuasa pada pertandingan ini?’
Dan, semua pertanyaan dan teka-teki itu pun terjawab sudah: anggota tim nasional Mesir memutuskan untuk tetap berpuasa sebagaimana mestinya. Dan, dengan menjalankan ibadah shiyam itu, mereka juga bisa menang. Subhanallah. [at/iol/hidayatullah.com]