Hidayatullah.com–Monitor tersembunyi ini bisa menyadap pembicaraan penumpang melalui satelit, dan telah dipasang di 70.000 taksi di Beijing, menurut pengemudi taksi pejabat perusahaan.
Dikhawatirkan hal ini akan melanggar kebebasan pribadi dan tindakan ini berhubungan dengan peringatan Hari Nasional 1 Oktober mendatang.
Kebijakan memasang monitor pada taksi dimulai selama persiapan Olimpiade Beijing. Pemerintah mengatakan tujuannya adalah untuk melindungi pengemudi. Zhao seorang pengemudi taksi di Beijing mengatakan kepada Epoch Times, pemasangan monitor terdahulu pada aksi bersignal analog yang bisa mengirimkan data ke pusat penngiriman data hanya dengan menekan tombol. Tetapi Beijing sekarang memasang sistem baru pada taksi.
“Saya tidak punya masalah kalau kegunaannya untuk keamanan kendaraan,” kata Zhao.
“Jika dipakai untuk mengintip pembicaraan penumpang saya kira tidak benar. Orang yang berada disana bisa mendengar pembicaraan penumpang begitu saya menekan tombol.”
Wang sopir taksi yang lain di Beijing, mengatakan monitor sudah terpasang pada semua mobil taksi baru. “Mereka menggunakan sistem untuk memonitor seseorang yang melawan hukum,” kata Wang.
Lewat penyadapan dengan sistem GPS ini, petugas bisa menentukan lokasi taksi lewat satelit. Pabrik pembuat sistem ini mengatakan monitor bisa dihidupkan dari jarak jauh tanpa sepengetahuan pengemudi. Monitor juga bisa di kontrol dari jarak jauh untuk mematikan mobil.
Seorang warga Beijing tidak mengira akan penyadapan ini. “Saya khawatir kita tidak punya rahasia lagi.” Kata Wu
Peng Dingding, seorang penulis paruh waktu di Beijing, percaya akan adanya isu hukum yang dimasukkan. Setelah penumpang membayar biaya taksi. Taksi menjadi tempat pribadi, dia menjelaskan. Ini sama seperti membayar kamar hotel-kamar itu menjadi pribadi selama masa tinggal kita.
Peng mengatakan, penguasa bisa mengawasi pembicaraan pengemudi taksi dengan persetujuan pengemudi. Tetapi kalau menyadap pembicaraan penumpang adalah melanggar hak-hak pribadi.
Banyak yang memandang isu ini berhubungan dengan rezim Komunis yang ingin tetap mengontol rakyat dalam peringatan Hari Nasional, tidak masuk akal yang di lakukan Beijing untuk membentengi diri dari musuh. Seperti yang di lihat Wu polisi membawa senjata dengan bayonet, polisi khusus dan tentara berpatroli di sepanjang perempatan. “Itu membuat masyarakat tegang,” katanya. “Saya tidak mengerti pengamanan bisa seperti ini?” [ET/erb/hidayatullah.com]