Hidayatullah.com–Pemimpin Bank Sentral AS (The Federal Reserve) Ben Bernarke mengatakan, Selasa (18/10/2011), bahwa krisis ekonomi baru-baru ini akan berdampak dalam dan lama terhadap seluruh sendi kehidupan negara Amerika Serikat.
“Krisis terlihat pasti memiliki dampak yang mendalam dan lama terhadap perekonomian, masyarakat dan politik kita,” kata Bernarke dalam pidatonya di Boston, Massachusetts.
“Lebih sulit dipisahkan lagi, namun kemungkinan berpengaruh penting dalam jangka panjang, adalah pengaruh krisis terhadap cara berpikir intelektual, termasuk bagaimana cara para ekonom menganalisa makroekonomi dan fenomena finansial,” katanya.
Menurut Bernarke, krisis sudah mempengaruhi teori dan praktek perbankan sentral moderen dan tidak diragukan lagi akan berlanjut seperti itu.
Dalam pidatonya, Bernarke membela kebijakannya dalam mengatasi “peristiwa historis”, yaitu krisis finansial bersamaan dengan resesi yang parah.
Dalam menangani krisis, Bernarke menurunkan suku bunga Bank Sentral AS hingga mendekati nol pada bulan Desember 2008 dan terus melanjutkannya hingga saat ini. Bank Sentral juga meluncurkan dua putaran yang disebutnya kebijakan meringankan kuantitatif, yang artinya membeli obligasi pmerintah untuk menstimulasi ekonomi.
Pada bulan September lalu Bank Sentral AS mengumumkan mengubah 400 milyar dolar investasinya guna mencoba suku bunga rendah dalam jangka waktu lama. Hal itu diputuskan menyusul pengumuman pada bulan Agustus, yang mengatakan bahwa Bank Sentral AD akan mempertahankan suku bunga randahnya hingga paling tidak tahun 2013, dengan asumsi perekonomian masih lemah.
Bank Sentral AS dikritik oleh kalangan yang bependapat mempertahankan suku bunga rendah terlalu lama bisa memicu inflasi di kemudian hari.
Namun, Bernanrke bersikukuh bahwa perkiraan inflasi jangka panjang akan tetap rendah dan para bankir tidak seharusnya hanya memikirkan tujuan makroekonomi tradisional, seperti cukupnya lapangan kerja dan kestabilan harga, melainkan juga memikirkan tentang stabilitas keuangan.
Banyak pengamat yang menilai bahwa perekonomian Amerika Serikat akan kembali puih secara lambat, dan dibutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk keluar dari Resesi Besar, yang secara resmi berakhir pada Juni 2009. Demikian Xinhua melaporkan, Rabu (19/10/2011).*