Hidayatullah.com–Rakyat Libya melampiaskan kegembiraan turun ke jalan merayakan kematian Moammar Qadhafi, sesaat setelah Perdana Menteri Transisi Libya Mahmoud Jibril membenarkan berita tersebut. Mereka menari dan bernyanyi, meneriakkan pekik kemenangan atas lepasnya mereka dari belenggu diktator selama 42 tahun.
“Kami telah menunggu momen ini sejak lama. Moammar Qadhafi telah terbunuh,” kata Jibril dalam konferensi pers di Tripoli, dilansir dari laman Aljazeera, Kamis (20/10/2011).
Perayaan kematian Khadafi yang memang sudah berlangsung sebelum pengumuman resmi, bertambah meriah. Kota Tripoli sontak ramai dengan suara klakson mobil yang sengaja dibunyikan pemiliknya. Terdengar juga hingar bingar terompet dan bahkan tembakan ke udara, cara masyarakat Timur Tengah dan Afrika merayakan kemenangan.
“Ini adalah momen yang luar biasa. Saya telah menunggu momen ini berpuluh-puluh tahun, dan saya bersyukur pada Tuhan saya masih hidup untuk merasakannya,” kata Menteri Penerangan pemerintah transisi, Mahmoud Shammam, dikutip dari CNN.
Dalam rekaman video, warga terlihat mengeluarkan kepala mereka dari jendela mobil, berteriak-teriak. Di luar sebuah hotel, koki dan pegawai hotel berkumpul, bernyanyi dan menari.
Perayaan juga meriah di kota kelahiran sekaligus kematian Qadhafi, Sirte. Beberapa warga terlihat naik ke atap mobil, mengibarkan bendera Libya dan menembakkan peluru ke udara. Saking bahagianya, seorang warga bahkan mencium kamera televisi. Sebagian lainnya bernyanyi dan menari bersama.
Kematian Moammar Qadhafi dikatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, sebuah awal dari Libya yang baru. Setelah ini, ujar Ki-moon, waktunya bagi pemerintah dan masyarakat Libya untuk berbenah.
“Ini hanyalah akhir dari sebuah permulaan. Sekarang adalah waktunya seluruh rakyat Libya untuk maju bersama,” kata Ki-moon dalam pernyataan singkatnya, dilansir dari Reuters, Kamis.
“Ini adalah waktunya untuk pemulihan dan berbenah, membangun. Bukan waktunya untuk membalas dendam,” lanjut Ki-moon.*