Hidayatullah.com—Kerajaan Arab Saudi hari Jumat (18/10/2013) menolak giliran untuk menjadi anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan alasan lembaga itu tidak mampu mengakhiri perang dan menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di dunia.
Hari Kamis kemarin, Saudi untuk pertama kalinya memenangkan sebuah kursi anggota tidak tetap DK-PBB. Bersama Chad, Chile, Lithuania dan Nigeria, Saudi terpilih untuk menggantikan Azerbaijan, Guatemala, Maroko, Pakistan dan Togo oleh sidang 193 negara di Majelis Umum PBB.
Penolakan itu disampaikan Saudi hanya beberapa jam setelah terpilih menjadi salah satu dari 10 anggota tidak tetap DK-PBB.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan kantor berita Arab Saudi, Kementeria Luar Negeri mengatakan bahwa dewan beranggotakan total 15 negara itu gagal dalam menjalankan tugasnya di Suriah.
Saudi menilai DK-PBB dalam metode dan mekanisme kerjanya menggunakan standar ganda, sehingga memungkinkan bagi Presiden Bashar al-Assad membantai rakyatnya sendiri, termasuk dengan menggunakan senjata kimia tanpa ada sanksi yang tegas.
Selain itu, Saudi menganggap DK-PBB tidak dapat menyelesaikan konflik Palestina-Israel selama beberapa dekade dan gagal menjadikan Timur Tengah sebagai kawasan bebas dari senjata pemusnah massal, lansir The Guardian
Saudi bersama negara-negara Arab lainnya, telah berulang kali mengkritik Amerika Serikat, sebagai negara anggota tetap DK-PBB yang memiliki hak veto, atas tindakannya menjegal upaya masyarakat internasional yang ingin mengakhiri penjajahan atas wilayah Palestina yang dicaplok Zionis Yahudi sejak tahun 1967 dengan bantuan PBB.*