Hidayatullah.com–Polisi Sri Lanka memberlakukan jam malam di sebuah wilayah pantai pesiar pada Ahad kemarin setelah kaum Buddha menyerang kaum Muslim dan masjid- masjid di wilayah itu yang mengakibatkan beberapa orang terluka dan telah meningkatkan ketegangan.
Kaum Muslim Sri Lanka telah menyatakan keprihatinan mendalam mereka atas situasi itu dan mendesak pemerintah turun tangan untuk mengakhiri kekerasan. Demikian rilis Arab News, Senin (16/06/ 2014).
Kepolisian telah menerjunkan ratusan anggotanya ke Alutgama, 60 km selatan ibukota Kolombo, setelah dua kelompok itu saling menyerang dengan batu – ini merupakan kasus terbaru dari rangkaian bentrokan agama.
Seorang juru bicara polisi mengatakan kerusuhan itu dipicu oleh sebuah kelompok yang dipimpin oleh para biksu Budha yang mencoba untuk berjalan berarakan di wilayah dimana terdapat konsentrasi penduduk Muslim.
“Jam malam diberlakukan untuk mengendalikan situasi,” kata seorang perwira polisi di daerah itu kepada wartawan. Tidak ada laporan segera yang menyebutkan adanya penangkapan.
Banyak aktivis dari kedua belah pihak serta orang-orang yang menyaksikan di sekitar mereka terluka dalam bentrokan di malam itu, menurut para saksi yang juga melaporkan melihat beberapa kendaraan hancur.
Kerusuhan terbaru itu terjadi beberapa pekan setelah seorang anggota legislatif Muslim meminta Presiden Mahinda Rajapakse untuk melindungi komunitas minoritas mereka dari “unsur-unsur ekstremis Buddha” yang dinyatakan bersalah atas serangkaian serangan baru-baru ini.
Populasi Muslim di negara itu sekitar 10 persen dari 20 juta penduduk Sri Lanka. Kelompok nasionalis Buddha menyalahkan kaum minoritas Muslim memanfaatkan pengaruh politik dan ekonomi yang tidak sewajarnya.
Para biksu Buddha senior telah tertangkap kamera video sedang mengancam rekan-rekan mereka yang moderat yang mendukung toleransi dengan menggunakan kekerasan.
Rajapakse, yang merupakan seorang penganut Buddha, memperingatkan para biksu pada bulan Januari tahun lalu untuk tidak menghasut kekerasan agama.
Selama kekerasan di hari Ahad itu beberapa orang dilaporkan telah terluka serta toko-toko dan masjid-masjid dibakar. Para saksi mata mengatakan beberapa orang Muslim ditarik dari bus dan dipukuli. Ada juga laporan terjadinya penjarahan.
Bentrokan itu dikatakan bermula dari sebuah rapat umum yang diadakan oleh BBS (Bodu Bala Sena) atau Brigade Buddha. Pertemuan itu diadakan tiga hari setelah bentrokan kecil antara para pemuda Muslim dengan sopir biksu Budha.
Setelah rapat umum itu, BBS berbaris berarakan memasuki wilayah Muslim dengan meneriakkan slogan-slogan anti-Muslim, sebuah laporan mengatakan, dan polisi menggunakan gas air mata untuk meredam kekerasan. Laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan pasukan keamanan juga menggunakan tembakan.
Situasi ini benar-benar kacau dan hawa bahaya dalam bentuk kekerasan telah menyebar ke beberapa daerah, wartawan BBC di Aluthgama mengatakan.
Media Sri Lanka tampaknya telah memutuskan untuk tidak melaporkan kekerasan itu, yang mana sumber-sumber yang ada mengatakan mereka telah menerima “perintah dari atas”.
Presiden Sri Lanka telah meminta diadakan penyelidikan. “Pemerintah tidak akan mengizinkan siapa pun bertindak main hakim sendiri. Saya mendesak semua pihak untuk menahan diri,” kata Rajapakse melalui akun twitter-nya.*