Hidayatullah.com—Dua kelompok bersenjata besar di wilayah timur Libya hari Sabtu (4/6/2016) mengumumkan dukungan mereka terhadap pemerintah persatuan yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa, sementara mereka juga berusaha mendapatkan otoritas di wilayah tersebut.
Government of National Accord (GNA), yang didirikan di Tripoli lebih dari dua bulan lalu, berusaha mempersatukan faksi-faksi yang bertikai di Libya dan mengembalikan pemerintahan di negeri itu.
Namun, upayanya mendapatkan perlawanan dari kelompok-kelompok bersenjata yang masing-masing berusaha menjadi penguasa di berbagai daerah, termasuk oleh sebagian militer yang dipimpin oleh pensiunan jenderal Khalifa Haftar yang kontroversial.
Dua kelompok besar yang sebelumnya loyal kepada Haftar, pasukan khusus anti-teroris dan brigade intelijen militer, memutuskan untuk mendukung GNA.
Hari Sabtu kemarin komandan-komandan kedua kelompok itu menggelar konferensi pers bersama menteri pertahanan GNA Al-Mahdi Al-Bargathi untuk mengumumkan keputusan mereka itu.
Sementara itu di lapangan, pasukan-pasukan loyalis GNA berhasil mengambil alih pangkalan udara Al-Gordabiya di kota pesisir kampung halaman Muammar Qadhafi, Sirte, yang menjadi basis pertahanan kelompok ISIS. Mereka mengumumkan keberhasilan itu lewat Facebook.
Hari Selasa lalu, utusan khusus PBB untuk Libya Martin Kobler, menyeru agar seluruh faksi-faksi bersenjata di Libya bersatu menghadapi ISIS.
GNA, dengan perdana menterinya Fayez Al-Sarraj, telah mendapatkan pengakuan internasional dari otoritas sebelumnya yang menguasau ibukota, serta kelompok-kelompok bersenjata di bagian barat Libya.
Bank Sentral Libya dan perusahaan minyak negara juga telah mengkui pemerintahan pimpinan Fayez Al-Sarraj.
Hanya saja, pemerintah persatuan itu belum menerima pengakuan dari parlemen, yang terkait dengan pemerintah sebelumnya yang mendapatkan pengakuan internasional yang juga berbasis di bagian timur Libya.*