Hidayatullah.com–Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah menandatangani perjanjian damai dengan Gulbuddin Hekmatyar, pemimpin kelompok Hizbul Islam, sebagai jaminan agar partainya dikeluarkan dari daftar hitam teroris oleh PBB dan Amerika Serikat.
Gulbuddin Hekmatyar menandatangani kesepakatan pada Jumat itu melalui panggilan video yang dihubungkan ke istana kepresidenan di Kabul. Upacara tersebut disiarkan secara langsung di televisi.
Kesepakatan tersebut membuka jalan bagi Hekmatyar, yang saat ini memimpin sebagian besar kelompok Hizbul Islam tetapi telah bersembunyi selama bertahun-tahun, untuk membangun kembali potensi politik meskipun mempunyai sejarah kejahatan perang.
Tetapi para pengamat mengatakan kesepatakan tersebut menunjukkan suksesnya 15 tahun tawar-menawar dalam bernegosiasi damai dengan kelompok Islam di Afghanistan, dan dilakukan sebagai sebuah dorongan bagi Presiden Ashraf Ghani dalam menghadapi konferensi bantuan pembangunan di Brussels minggu depan.
“Sekaranglah waktunya bagi Taliban apakah akan melanjutkan perang atau berdamai,” kata Ghani ketika menandatangani kesepakatan itu di istana kepresidenan di Kabul seperti dikutip Aljazeera, Kamis (29/09/2016).
Menjelang penandatangan, keamanan di Ibu Kota Afghanistan itu diperketat. Jalan menuju istana kepresidenan ditutup.
Kepala eksekutif Abdullah Abdullah, mantan presiden Hamid Karzai, delegasi dari Hizbul Islam dan politisi lain juga terlihat menghadiri upacara tersebut.
Itu merupakan perjanjian damai pertama pemerintah Afghanistan yang selesai sejak perang dengan Taliban dimulai pada tahun 2001, menandakan sebuah kemenangan simbolis perjuangan Kabul dalam menghidupkan kembali perundingan dengan kelompok militan.
Kesepakatan tersebut juga disambut hangat oleh masyarakat internasional dianggap sebagai sebuah perbandingan akan mungkinnya melakukan perjanjian damai dengan Taliban di masa yang akan datang.
Setelah sanksi-sanksi dicabut, Hekmatyar diharapkan dapat kembali ke Afghanistan setelah 20 tahun berada di pengasingan. Dia diyakini berada di Pakistan.
Kepala delegasinya di Kabul, Amin Karim, mengatakan hal tersebut dapat terjadi dalam beberapa minggu.
Hekmatyar menyatakan ucapan selamat pada pemerintah dan “semua rakyat Afghanistan yang menginginkan perdamaian dan stabilitas di wilayah itu” setelah dia menandatangani salinan perjanjian damai itu melalui sambungan video.
“Aku berdoa agar negara kita dapat berdaulat dan merdeka, serta bangsa kita yang tidak bersalah dan diselimuti perang ini dapat mengakhiri pertempuran dan ketidakamanan saat ini, dan juga terjadinya persatuan,” kata dia.
Hekmatyar merupakan seorang komandan anti-Soviet terkemuka pada tahun 1980an yang dituduh membunuh ribuan orang di ibukota Afghanistan itu selama perang sipil 1992-1996.
Dia dipercaya bersembunyi di Pakistan, tetapi kelompoknya mengklaim bahwa dia masih berada di Afghanistan.
Perjanjian itu, yang memberinya kekebalan hukum, menjamin jalannya untuk kembali ke dunia politik seperti yang dilakukan komandan lain, seperti General Abdul Rashid Dostum, yang saat ini mernjadi wakil presiden pertama negara itu.
Di sisi lain, kesepakatan tersebut disesali oleh kelompok hak asasi manusia dan penduduk ibukota yang bertahan hidup setelah perang sipil, beberapa dari mereka melakukan turun ke jalan.
Kesepakatan itu disetujui pada Jumat tetapi pemerintah mengatakan hal itu tidak berlaku hingga ditandatangani secara resmi oleh Ghani dan Hekmatyar.
Beberapa tahun belakangan Hizbul Islam secara luas sudah tidak aktif, dan perjanjian itu mungkin tidak akan memberikan dampak langsung pada situasi keamanan di Afghanistan.
Minggu lalu pemerintah mengambil kesempatan itu untuk memperbarui penawaran mereka tentang perjanjian damai pada Taliban, yang terus-menerus menolak untuk terlibat dalam negosiasi dengan meningkatkan serangan terhadap rezim yang didukung Barat.*/ Nashirul Haq AR