Hidayatullah.com – Rakyat Irak berbondong-bondong bermain lempar salju dan berfoto di Baghdad pada Selasa ketika ibukota Irak itu diselimuti salju untuk kedua kalinya dalam 100 tahun lapor The New Arab pada 12 Februari 2020.
Hujan salju terakhir yang tercatat di kota itu terjadi pada tahun 2008, yang dengat cepat mencair. Sebelum itu, sudah satu abad sejak Baghdad menyaksikan salju.
Rakyat Irak baik yang muda maupun tua mengatakan itu adalah pertama kalinya mereka melihat salju di Baghdad.
Pepohonan dan jalanan kota itu terlihat putih, dan tenda-tenda demonstrasi anti-pemerintah di Lapangan Tahrir juga tertutupi salju.
“Hujan salju dapat terus terjadi hingga Rabu mengingat cuaca yang sangat dingin,” kata Amer al-Jaberi, kepala media Pusat Meteorologi Irak.
“Gelombang dingin ini datang dari Eropa,” dia mengatakan pada AFP.
Warga Baghdad lebih terbiasa dengan panas daripada dingin.
Temperatur tertinggi yang tercatat di ibukota mencapai 51 derajat Celcius, rekor yang beberapa kali hampir terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Di selatan ibukota, salju juga turun di kota suci bagi Syiah, Karbala, yang menarik para peziarah dari seluruh dunia ke tempat-tempat pemujaan, makam kubah emas Abbas dan Hussein – cucu Rasulullah.
Hujan salju lebih sering terjadi di Irak utara, di mana salju menutupi kota Mosul, daripada di Irak tengah dan selatan.
Irak telah dilanda serangkaian peristiwa cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2018, kelangkaan air memicu krisis kesehatan di pusat dan selatan negara itu namun pada tahun berikutnya hujan lebat menyebabkan banjir mematikan dan kerusakan parah pada rumah dan hasil panen.
Suhu terik kemudian menghantam utara memicu kebakaran liar.
Para ahli mengatakan Irak tidak memiliki dana atau infrastruktur untuk mengatasi perubahan iklim dan penggurunan lahan yang tadinya produktif.
Bulan lalu, Arab Saudi mengalami hawa dingin yang jarang terjadi yang membawa salju ke gurun di barat laut negara itu.
Penduduk Saudi di Tabuk, dekat perbatasan dengan Yordania, berbagi video gurun di kerajaan itu yang tertutup salju di media sosial.
Gurun di wilayah utara dan timur Arab Saudi menyaksikan salju di musim dingin 2016, tetapi kejadian seperti itu masih jarang terjadi di seluruh wilayah.
Direktorat pertahanan sipil di wilayah tersebut meluncurkan rencana darurat komprehensif untuk menghadapi segala risiko potensial dari salju, demikian menurut situs berita.
Warga Saudi dengan cepat berbagi kegembiraan mereka dengan cuaca dingin di media sosial.
Seorang pengguna memposting video salju di Twitter, menulis: “Bisakah Anda percaya? Ini bukan Rusia, atau Italia atau Norwegia.”
Yang lain memposting foto keindahan desanya, di mana dua orang duduk di sekitar api untuk menghangatkan diri dari salju.
Suhu rendah rata-rata di ibukota Saudi adalah 11 derajat Celcius sepanjang tahun ini.
Meskipun kondisi cuaca ini tidak biasa di kerajaan dan Semenanjung Arab, perubahan iklim dan fenomena terkait cuaca lainnya menjadikan cuaca ekstrem sebagai “normal baru”.